
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Harga emas di Banda Aceh memasuki pekan pertama Mei 2026 dalam kondisi “diam tapi mengintai”. Selama empat hari berturut-turut, harga emas per mayam stagnan di angka Rp7.900.000.
Informasi dari Toko Emas Al-Fath menyebutkan, harga tersebut belum termasuk ongkos pembuatan yang berkisar Rp200.000 hingga Rp250.000, tergantung tingkat kerumitan desain.
Kondisi stagnan ini terjadi setelah koreksi pada akhir April. Pasar kini terlihat tenang, namun pelaku usaha menilai situasi tersebut hanya bersifat sementara.
“Diamnya harga bukan berarti aman,” ujar salah satu pedagang.
Secara umum, harga emas di Banda Aceh sangat bergantung pada dinamika global—mulai dari pergerakan harga emas dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga tensi geopolitik. Artinya, perubahan bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan panjang.
Menariknya, saat pasar lokal cenderung stagnan, harga emas nasional justru bergerak. Data dari PT Aneka Tambang Tbk menunjukkan harga emas Antam turun tipis Rp1.000 per gram pada Senin (4/5/2026).
Kini, harga emas Antam berada di level Rp2.795.000 per gram, dengan harga buyback Rp2.585.000 per gram. Selisih Rp210.000 per gram ini tetap menjadi faktor penting bagi investor dalam menentukan strategi jual-beli.
Perbedaan dinamika ini menegaskan adanya jeda antara pasar lokal dan nasional. Banda Aceh cenderung “menahan napas”, sementara pasar nasional mulai bergerak mengikuti tekanan global.
Bagi masyarakat, kondisi ini bisa menjadi momentum—baik untuk membeli di harga stabil maupun menahan diri menunggu arah pasar berikutnya.
Namun satu hal yang pasti: di tengah ketidakpastian ekonomi, emas tetap menjadi “pelabuhan aman” bagi nilai aset.
