
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level psikologis 114 dollar AS per barel.
Lonjakan harga ini terjadi setelah serangan terbaru Iran terhadap kapal-kapal di kawasan Selat Hormuz serta kebakaran di pelabuhan minyak utama Uni Emirat Arab memicu kekhawatiran serius terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak 6,27 dollar AS atau 5,8 persen ke level 114,44 dollar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 4,48 dollar AS atau 4,4 persen menjadi 106,42 dollar AS per barel.
Serangan Iran dilaporkan menyasar sejumlah kapal di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Bahkan, kebakaran terjadi di fasilitas minyak utama UEA setelah serangan drone yang diduga berasal dari Iran.
Militer AS merespons dengan menghancurkan enam kapal kecil Iran serta mencegat rudal jelajah dan drone yang mengancam jalur pelayaran internasional.
Situasi ini menjadi eskalasi terbesar sejak gencatan senjata awal April 2026—menandakan konflik kembali memasuki fase berbahaya.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran merilis peta yang memperluas klaim kendali di sekitar Selat Hormuz hingga mencakup pelabuhan strategis di UEA, mempertegas ancaman terhadap jalur distribusi energi global.
Analis dari Eurasia Group memperingatkan, harga minyak berpotensi bertahan di atas 100 dollar AS jika jalur pelayaran tidak segera normal.
“Jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali, harga minyak akan tetap tinggi dan harga bensin di AS bisa menyentuh 5 dollar AS per galon pada Juni,” tulis Eurasia Group.
Dalam 24 jam terakhir, Iran juga diduga menyerang empat kapal di wilayah Teluk, termasuk milik Korea Selatan dan UEA. Insiden kebakaran dan ledakan dilaporkan terjadi pada kapal yang dioperasikan perusahaan pelayaran Korea Selatan.
Meski situasi memanas, UEA menyatakan tetap akan meningkatkan produksi minyak guna menjaga stabilitas pasar global. Sementara kelompok OPEC+ berencana menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari pada Juni—kenaikan ketiga secara berturut-turut.
Namun di tengah konflik yang kian terbuka, pasar tampaknya lebih percaya pada risiko dibandingkan pasokan tambahan.
Harga sudah berbicara.
Dan dunia kembali diingatkan: satu percikan di Selat Hormuz bisa mengguncang energi global.
