
Ketua Fraksi NasDem DPRA, Ir Nurchalis, SP, M.Si saat menyampaikan pidato pada acara Seminar Hasil Penelitian di Aula Bappeda Nagan Raya, Selasa (12/5/26).Ist
MEDIASURAK.ID, SUKA MAKMUE — Ketua Fraksi Partai NasDem DPRA, Ir Nurchalis, SP, M.Si melontarkan kritik tajam terhadap arah pembangunan ekonomi Aceh yang dinilainya belum mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya alam (SDA) secara maksimal.
Dalam Seminar Hasil Penelitian yang digelar Bappeda Aceh di Aula Bappeda Kabupaten Nagan Raya, Selasa (12/5/2026), Nurchalis menegaskan Aceh sejatinya memiliki semua syarat untuk menjadi daerah yang mandiri dan berdaulat secara ekonomi.
“Aceh memiliki laut yang kaya, hutan yang luas, tambang yang besar, pertanian dan perkebunan yang subur. Tapi sampai hari ini kita belum mampu mengelola semuanya secara maksimal. Selama ini baru sebatas retorika,” kata politisi NasDem itu.
Menurut anggota Komisi Ekonomi dan Keuangan DPRA tersebut, salah satu contoh nyata lemahnya pengelolaan ekonomi adalah sektor perkebunan sawit.
Aceh, kata dia, memiliki puluhan pabrik kelapa sawit (PKS) dan ribuan hektare kebun rakyat maupun swasta. Namun hingga kini, daerah itu belum mampu melahirkan industri hilirisasi yang kuat.

Ketua Fraksi NasDem, Nurchalis, Ketua Bappeda Nagan Raya dan tiga nara sumber dari Fakultas Pertanian USK dan Politeknik Lhokseumawe serta peserta foto bersama usai seminar.Ist
Padahal, jika produk turunan sawit dapat dikembangkan di Aceh, maka nilai tambah ekonomi akan jauh lebih besar, kesejahteraan petani meningkat, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bisa melonjak signifikan.
“Kenapa kita hanya menjual bahan mentah? Hilirisasi itu yang harus dibangun supaya ekonomi rakyat bergerak dan Aceh punya kekuatan ekonomi sendiri,” tegasnya.
Tak hanya sawit, Nurchalis juga menyoroti potensi sektor perikanan, pertanian, hingga pelabuhan yang dinilai belum dikelola secara strategis.
Ia meminta pemerintah tidak sekadar membangun infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan tanpa arah ekonomi yang jelas.
“Kalau membangun suatu daerah, pertanyaannya harus jelas: apakah ekonomi di sana akan tumbuh? Jangan membangun tanpa dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Mantan Kepala Biro Pembangunan Kantor Gubernur Aceh itu mengaku memahami bagaimana arah pembangunan seharusnya dirancang agar benar-benar memberi efek ekonomi jangka panjang.
Karena itu, ia meminta hasil penelitian dan kajian potensi SDA di seluruh kabupaten/kota, khususnya di Nagan Raya, dipublikasikan secara luas dan dijadikan dasar penyusunan strategi pembangunan ekonomi Aceh ke depan.
Sebagai putra daerah Nagan Raya, Nurchalis juga mendorong Bappeda Nagan Raya untuk lebih inovatif dalam merancang program ekonomi rakyat yang dapat diperjuangkan bersama DPRA, khususnya Komisi yang membidangi ekonomi dan keuangan.
Menurutnya, Aceh tidak boleh terus bergantung pada Dana Otonomi Khusus (Otsus). Dana tersebut, kata dia, sejatinya hanya stimulus dari pemerintah pusat untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah.
“Tanpa dana Otsus pun sebenarnya Aceh bisa mandiri. Kita punya kekuatan SDA yang luar biasa. Yang belum ada adalah keberanian dan keseriusan mengelolanya,” katanya.
Ia menegaskan, di tengah ancaman krisis global dan ketidakpastian ekonomi dunia, Aceh harus mulai membangun kedaulatan ekonomi di atas kaki sendiri.
“Aceh harus mampu berdaulat di tanah indatu. Kita punya semua modal untuk itu,” tutup Nurchalis. [HH]
