
Trump marahi Netanyahu, akhirnya damai dengan Hizbullah.Foto/Reuter
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Untuk pertama kalinya dalam eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berhasil memaksa Israel mengubah sikapnya. Setelah serangkaian tekanan diplomatik terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Tel Aviv akhirnya menyepakati gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon, membuka kembali ruang bagi diplomasi yang lebih luas antara Washington dan Teheran.
Kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada Jumat (26/6) pukul 16.00 waktu Lebanon atau 13.00 GMT. Sebelum penghentian tembak-menembak diberlakukan, kedua pihak masih sempat saling melancarkan serangan.
Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengatakan kesepakatan tersebut merupakan hasil perundingan intensif yang dimediasi Washington dan Qatar, dengan dukungan Iran. Dua sumber Hizbullah serta seorang pejabat senior Israel juga mengonfirmasi bahwa gencatan senjata telah resmi diberlakukan.
“Jika Hizbullah tidak menyerang kami, maka bagi kami ini bukan lagi masa perang,” ujar seorang pejabat senior Israel kepada Reuters.
Meski menghentikan operasi tempur, Israel menegaskan tetap mempertahankan pasukannya di Lebanon selatan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan pelanggaran gencatan senjata.
Trump Ambil Alih Kendali
Di balik kesepakatan tersebut, peran Donald Trump menjadi faktor yang paling menentukan. Presiden AS itu mengaku secara langsung menghubungi pihak Israel dan meminta mereka menghentikan eskalasi perang.
“Kadang-kadang Anda hanya perlu menenangkan diri dan menggunakan akal sehat,” kata Trump kepada NBC News.
Walaupun Trump tidak memastikan apakah dirinya berbicara langsung dengan Netanyahu, sejumlah media Amerika melaporkan komunikasi tingkat tinggi itu menjadi titik balik yang mendorong Israel menerima gencatan senjata.
Sikap Trump menandai perubahan yang cukup mencolok dalam hubungan Washington-Tel Aviv. Selama beberapa hari terakhir, ia secara terbuka menunjukkan rasa frustrasinya terhadap kebijakan Netanyahu yang terus memperluas operasi militer di Lebanon.
Menurut Trump, serangan Israel justru mengancam kepentingan strategis Amerika Serikat karena berpotensi menggagalkan nota kesepahaman (MoU) yang tengah dirancang Washington bersama Iran sebagai fondasi menuju kesepakatan baru mengenai isu nuklir dan stabilitas kawasan.
Hubungan AS-Israel Mulai Retak
Kesepakatan gencatan senjata sekaligus memperlihatkan semakin terbukanya perbedaan sikap antara Washington dan Tel Aviv.
Sejumlah menteri Israel sebelumnya secara terbuka menolak tekanan Amerika Serikat dan menegaskan negaranya tidak akan membiarkan kebijakan keamanan nasional didikte oleh pihak luar.
Namun Trump bersama Wakil Presiden JD Vance justru beberapa kali mengingatkan Netanyahu agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata demi menjaga kepentingan diplomasi yang lebih besar.
Trump bahkan menyatakan Israel semestinya menghargai dukungan Amerika Serikat selama ini, termasuk langkah-langkah Washington menghadapi Iran yang dinilainya ikut menjaga keamanan negara Yahudi tersebut.
Jalan Menuju Kesepakatan AS-Iran
Meredanya konflik di Lebanon diyakini membuka peluang baru bagi diplomasi Amerika Serikat dengan Iran.
Menurut laporan Axios, utusan khusus Presiden AS Steve Witkoff dijadwalkan bertolak ke Swiss untuk memulai putaran baru perundingan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir antara kedua negara.
Para diplomat menilai penghentian konflik Israel-Hizbullah menjadi syarat penting agar pembicaraan tersebut dapat berlangsung tanpa tekanan militer di lapangan.
Korban Terus Berjatuhan
Meski gencatan senjata mulai berlaku, situasi di Lebanon belum sepenuhnya stabil.
Sumber keamanan Lebanon melaporkan Israel masih melancarkan sekitar selusin serangan udara dalam satu jam pertama setelah kesepakatan diumumkan. Namun setelah pukul 17.00 waktu setempat, tidak lagi tercatat adanya serangan baru.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 47 orang tewas dan 97 lainnya luka-luka akibat serangan Israel sejak lewat tengah malam hingga Jumat.
Di pihak Israel, militer mengonfirmasi empat tentaranya tewas dalam sebuah insiden di Lebanon, meski belum mengungkap rincian penyebabnya.
Diplomasi Kembali Mengungguli Senjata
Gencatan senjata ini bukan sekadar penghentian sementara konflik Israel-Hizbullah. Lebih dari itu, kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa kepentingan diplomasi Amerika Serikat mulai kembali menjadi penentu arah konflik Timur Tengah.
Bagi Trump, keberhasilan menghentikan pertempuran di Lebanon menjadi modal penting untuk menghidupkan kembali jalur negosiasi dengan Iran. Sementara bagi Netanyahu, keputusan menerima gencatan senjata memperlihatkan bahwa ruang manuver Israel tidak lagi sepenuhnya bebas ketika kepentingan strategis Washington dipertaruhkan.[]



