
“Grafik tingkat kunjungan kita naik saat libur akhir tahun dan tahun baru, Hari Raya Iduladha, serta libur anak sekolah. Puncak kunjungan juga pada hari pertama museum setelah Hari Raya Idulfitri,” kata Kepala Subbagian Tata Usaha UPTD Museum Tsunami Aceh, Mimi Oktriyeni, Selasa (7/7/2026).
Mimi mengatakan peningkatan jumlah pengunjung saat musim liburan sekolah merupakan pola berulang setiap tahun. Berdasarkan data UPTD Museum Tsunami Aceh, punjung kata dia, terdiri 38.719 orang dewasa, 13.137 anak-anak, serta 541 wisatawan mancanegara.
“Pengunjung bukan hanya wisatawan lokal, tapi juga berasal dari mancanegara tapi wisatawan Malaysia mendominasi. Ada juga wisatawan dari Jepang, China, Jerman, Inggris, Australia, dan beberapa negara lainnya,” ungkapnya.
Lonjakan pengunjung di mengusung yang mengusung konsep wisata sejarah dan edukasi kebencanaan ini mulai terjadi sejak Juni. Adapun rekor kunjungan tertinggi tercatat pada Minggu (5/7/2026) dengan 5.198 pengunjung.
“Pada 27 Juni, museum menerima 5.140 pengunjung, 4.259 pengunjung pada 28 Juni, dan 4.586 pengunjung pada 4 Juli. Tingginya pengunjung menunjukkan museum ini masih menjadi pilihan utama wisatawan yang datang ke Banda Aceh,” ujar Mimi.
Lebih lanjut kata dia, Museum Tsunami Aceh tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengenang sejarah bencana tsunami, tetapi juga pusat pembelajaran mengenai mitigasi kebencanaan yang terus menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah maupun mancanegara. Meningkatnya jumlah wisatawan dinilai turut berdampak positif terhadap sektor pariwisata di Banda Aceh


