
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH siswa salah satu sekolah di Kota Banda Aceh diduga menjadi korban pengeroyokan oleh kakak kelasnya. Selain luka, korban mengalami trauma hingga tak berani pergi sekolah.
Insiden terungkap setelah ayah korban memposting dugaan pengeroyokan di akun Instagram @alya.collection miliknya. Dalam postingannya akun tersebut, juga memuat foto memperlihatkan luka di beberapa bagian wajah korban.
Ayah korban sekaligus owner @alya.collection, Aryan mengatakan kejadian berawal saat korban makan di kantin sekolah sambil menaikkan kaki ke atas. Tak lama berselang atau saat sedang belajar, korban dipanggil kakak kelasnya dan diminta menuju toilet.
“Enam orang menunggu di toilet, dua orang memanggil anak saya. Anak saya tanya, ada apa dan mereka jawab ikut saja. Sampai di toilet dihajar,” kata Aryan, Selasa (22/9/2026).
Aryan menyebut selain pukulan di bagian kepala, korban juga ditenda hingga mulutnya berdarah. Para terduga pelaku kemudian menyuruh korban berkumur agar tidak ketahuan oleh guru dan kembali masuk kelas.
Dirumah kata Aryan, korban sempat menyembunyikan peristiwa yang menimpannya, namun akhirnya diketahui keluarga karena terjadi pembengkakan di bagian wajah.
“Kami visum semuanya. Selesai visum kami lapor ke sekolah,” ujarnya.
Saat itu, pihak sekolah mengaku tidak mengetahui kejadian karena berlangsung saat jam belajar. Pihak sekolah kemudian memanggil pelaku dan orang tua mereka untuk proses mediasi.
Aryan menegaskan dalam mediasi tersebut meminta anak-anak yang melakukan kekerasan dikeluarkan dari sekolah. Namun orang tua terduga pelaku tidak menerima dan berupaya meminta damai.
“Saya minta keadilan, mereka dikeluarkan. Orang tua mereka tidak terima bahkan bersikap arogan hingga menantang duel,” lanjut Aryan.
Merasa tidak menemukan jalan tengah, Aryan kemudian melakukan pelaporan kasus tersebut ke Polresta Banda Aceh. Aryan juga mengunggah kasus tersebut di media sosial hingga mendapat banyak respon termasuk dari Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah hingga Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh.
Setelah kasus tersebut tersebar luas di media sosial, Aryan mendapat laporan serupa yang terjadi di lingkungan sekolah. Sejumlah orang menceritakan secara pribadi bahwa kekerasan tersebut terjadi pada anak-anak lain di sekolah yang sama.
“Saya bilang jangan takut, speak up saja,” ucapnya.
Sementara itu, Aryan mengaku bahwa Wakil Wali Kota Banda Aceh, Komnas HAM, Dinas Pendidikan hingga tim medis telah mendatangi dan bertemu dengan anaknya untuk melakukan pendampingan.
“Mereka datang melakukan pendampingan. Tim medis juga mengecek dan melakukan visum. Mereka siap dampingi kasus ini hingga selesai,” ungkap Aryan.
Aryan menceritakan bahwa kini kondisi anaknya mengalami trauma hingga tidak mau berangkat ke sekolah. Trauma yang dialami bahkan membuat anaknya gemetar saat berbicara.
“Trauma dia, tidak mau ke sekolah. Kalau ngomong gemetar,” ujarnya.
Aryan menyebut bahwa hingga kini respon dari pihak sekolah sangat positif. Termasuk siap menjadi saksi dalam proses hukum yang sedang berlangsung.
Aryan juga mengungkapkan hingga kasus ini viral pihak terduga pelaku maupun orang tua terduga pelaku belum mendatanginya untuk meminta maaf maupun mediasi kembali.
“Tidak ada, belum ada minta maaf atau mediasi lain,” pungkas Aryan.



