
Senator Tim Sheehy
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Amerika Serikat menghadapi peringatan keras dari dalam negerinya sendiri. Senator Partai Republik Tim Sheehy mengakui kapasitas industri galangan kapal China kini telah mencapai sekitar 230 kali lipat dibandingkan Amerika Serikat, sebuah kesenjangan yang dinilai mengancam daya saing maritim sekaligus keamanan nasional Negeri Paman Sam.
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa persaingan Washington dan Beijing tidak lagi sekadar soal jumlah kapal perang atau kecanggihan persenjataan, melainkan telah bergeser pada kemampuan industri yang menjadi fondasi kekuatan militer jangka panjang.
Dalam wawancara dengan Fox News, Sheehy yang merupakan mantan anggota Navy SEAL mengatakan Amerika kehilangan kemampuan industri strategis akibat minimnya investasi selama puluhan tahun.
Menurutnya, bukan hanya produksi kapal baru yang tertinggal, tetapi kemampuan memperbaiki armada juga semakin lambat dibandingkan China yang terus memperluas kapasitas galangan kapalnya.
“Selama 30 tahun terakhir kita kehilangan banyak kemampuan industri,” kata Sheehy.
Ia menilai kemerosotan tersebut merupakan konsekuensi dari kebijakan jangka panjang ketika Amerika terlalu menikmati masa damai sehingga banyak galangan kapal ditutup, dialihfungsikan, atau kehilangan tenaga kerja terampil.
Akibatnya, membangun kembali industri galangan kapal kini jauh lebih sulit dibandingkan memperkuat cabang militer lainnya.
Menurut Sheehy, pembangunan kapal perang bukan sekadar persoalan anggaran. Industri tersebut membutuhkan jaringan pemasok baja, mesin, komponen elektronik, infrastruktur besar, hingga ribuan tenaga kerja dengan keahlian khusus yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dipersiapkan.
Sementara Amerika masih berupaya membangun kembali fondasi industrinya, China terus memperbesar kapasitas produksi kapal melalui dukungan pemerintah, industri baja, manufaktur, dan rantai pasok yang terintegrasi.
Kombinasi tersebut memungkinkan Beijing memproduksi kapal komersial maupun kapal perang dalam jumlah besar sekaligus mempercepat proses pembangunan dan perawatan armada.
Perbedaan kapasitas yang mencapai sekitar 230 banding 1 tidak lagi dipandang sekadar statistik industri, tetapi mencerminkan jurang kemampuan manufaktur yang menopang kekuatan maritim kedua negara.
Peringatan Sheehy muncul ketika pemerintahan Presiden Donald Trump menjadikan kebangkitan industri maritim sebagai salah satu agenda strategis nasional.
Pada April 2025, Trump menandatangani Maritime Action Plan (MAP) yang bertujuan memperluas kapasitas pembangunan kapal komersial maupun militer, memperkuat rantai pasok domestik, serta menyiapkan tenaga kerja baru bagi industri galangan kapal.
Namun jalan yang harus ditempuh tidak mudah.
Sejumlah laporan Angkatan Laut Amerika Serikat dan Government Accountability Office (GAO) menunjukkan berbagai program pembangunan kapal masih menghadapi keterlambatan, pembengkakan biaya, kekurangan tenaga kerja terampil, hingga keterbatasan fasilitas galangan kapal.
Di sisi lain, China justru terus mempercepat ekspansi industri maritimnya dengan membangun ekosistem yang mencakup produksi baja, mesin, komponen, logistik, hingga jaringan pemasok nasional yang saling terhubung.
Sheehy mengatakan kondisi tersebut kini mulai menyadarkan kalangan politik Amerika.
Menurutnya, baik Partai Republik maupun Demokrat semakin menyadari bahwa investasi besar-besaran pada industri galangan kapal menjadi syarat mutlak apabila Amerika ingin mempertahankan posisi sebagai kekuatan maritim dunia.
Meski demikian, Amerika masih memiliki keunggulan pada sektor teknologi pertahanan, termasuk kapal induk, kapal selam nuklir, sistem persenjataan canggih, dan berbagai platform tempur berteknologi tinggi.
Namun para pengamat menilai keunggulan teknologi tidak selalu mampu mengimbangi kapasitas produksi industri.
Dalam persaingan kekuatan global, perang modern tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki kapal paling canggih, tetapi juga siapa yang mampu membangun, memperbaiki, dan mengganti armadanya paling cepat. Di titik inilah China dinilai telah melampaui Amerika Serikat. Pengakuan Senator Tim Sheehy menjadi sinyal bahwa tantangan terbesar Washington saat ini bukan sekadar mengejar jumlah kapal, melainkan membangun kembali fondasi industri yang telah terkikis selama puluhan tahun—sebuah pekerjaan besar yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan anggaran pertahanan raksasa.[dk]
