NEW YORK – Amerika Serikat meningkatkan eskalasi tekanan terhadap Iran dengan mengancam menjatuhkan sanksi sekunder kepada negara dan lembaga keuangan yang masih membeli minyak Teheran. Kebijakan ini secara langsung menyasar China sebagai pembeli utama minyak Iran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa Washington tidak hanya akan menindak Iran, tetapi juga pihak ketiga yang terlibat dalam rantai perdagangan energinya.
“Kami telah memberi tahu negara-negara bahwa jika Anda membeli minyak Iran, atau jika dana Iran berada di sistem perbankan Anda, maka kami siap menerapkan sanksi sekunder,” tegas Bessent.
Langkah ini menandai pergeseran strategi AS dari sekadar menekan produsen menjadi memburu seluruh ekosistem perdagangan minyak Iran, termasuk pembeli, bank, hingga jalur distribusi.
Blokade dan Kegagalan Diplomasi
Tekanan terbaru ini muncul setelah negosiasi damai antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Pakistan pada 11 April 2026 berakhir tanpa kesepakatan. Tak lama berselang, AS memulai blokade maritim terhadap Iran pada 13 April—sebuah langkah yang mempertegas bahwa jalur diplomasi kian menyempit.
AS meyakini blokade tersebut akan memukul langsung ekspor energi Iran. Selama ini, lebih dari 80 persen minyak Iran diketahui mengalir ke China melalui berbagai jalur, termasuk skema tidak langsung dan pengalihan kapal (ship-to-ship transfer).
“Kami percaya dengan blokade ini, pembelian oleh China akan berhenti,” ujar Bessent, seperti dikutip Reuters.
Bank dan Jalur Keuangan Ikut Dibidik
Tidak hanya perdagangan fisik minyak, AS juga memperluas tekanan ke sektor keuangan global. Departemen Keuangan AS dilaporkan telah mengirim surat kepada sejumlah bank di China, serta lembaga keuangan di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman.
Langkah ini bertujuan memutus jalur pembayaran dan pencucian uang yang diduga menopang ekspor minyak Iran.
Dengan strategi ini, Washington mencoba “mengunci” Iran dari dua sisi sekaligus: pasokan (produksi dan distribusi) serta likuiditas (pembayaran dan perbankan).
Akhir Pengecualian, Pasar Energi Terancam Bergejolak
Kebijakan ini juga berkaitan dengan berakhirnya masa pengecualian (waiver) sanksi selama 30 hari yang sebelumnya diberikan AS. Pengecualian itu sempat membuka jalan bagi sekitar 140 juta barel minyak Iran masuk ke pasar global guna menahan lonjakan harga energi akibat konflik.
Namun, menurut Bessent, pengecualian tersebut akan berakhir pada 19 April dan tidak akan diperpanjang. AS juga mengambil langkah serupa terhadap minyak Rusia, menandakan kebijakan energi Washington kini memasuki fase lebih agresif.
“Tekanan Maksimum” Jilid Baru
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari strategi “maximum pressure” yang sebelumnya digaungkan oleh Donald Trump terhadap Iran, terutama terkait program nuklir dan dukungan Teheran terhadap kelompok milisi di Timur Tengah.
Selain sanksi terhadap pembeli, AS juga telah menargetkan infrastruktur logistik minyak Iran—mulai dari kapal tanker, perusahaan pelayaran, hingga individu yang terlibat dalam jaringan distribusi.
Implikasi Global: Energi, Geopolitik, dan Risiko Eskalasi
Langkah AS ini berpotensi memicu efek berantai:
- Pasar energi global terancam kembali bergejolak akibat berkurangnya pasokan.
- China–AS berpotensi semakin tegang karena kepentingan energi Beijing langsung tersasar.
- Iran bisa merespons dengan langkah balasan, termasuk ancaman terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Dengan demikian, kebijakan ini bukan sekadar sanksi ekonomi, melainkan bagian dari pertarungan geopolitik yang menyentuh “urat nadi” energi dunia.[ed]
