
Jamaah haji Aceh membawa pulang boneka unta yang dibeli di Tanah Suci sebagai oleh-oleh untuk anak cucu. (Foto/mediasurak.id/Raudhah)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Ada pemandangan menarik yang hampir selalu menghiasi kepulangan jamaah haji Aceh dari Tanah Suci. Di sela koper berisi kurma, air zamzam, dan perlengkapan ibadah, tampak boneka-boneka unta berwarna-warni bergelantungan di tas maupun dipeluk para jamaah. Suvenir sederhana itu seolah menjadi penanda khas musim haji sekaligus membawa pulang sepotong kisah dari padang pasir Arab Saudi.
Boneka unta kini menjadi salah satu oleh-oleh yang paling banyak diburu jamaah haji Aceh. Bentuknya yang lucu, ringan dibawa, dan identik dengan Timur Tengah membuatnya menjadi hadiah favorit bagi anak-anak maupun cucu yang menunggu kepulangan para tamu Allah.
Suasana penyambutan di Asrama Haji Aceh pun terasa semakin semarak. Sejumlah jemaah terlihat mengalungkan boneka unta di leher mereka saat turun dari bus, sementara lainnya menggantungkan boneka tersebut di koper dan tas. Warna-warninya yang cerah menambah keceriaan di tengah haru pertemuan keluarga setelah lebih dari sebulan berpisah.
Salah seorang jemaah, Ita, mengaku sejak berada di Arab Saudi sudah berniat membeli boneka unta khusus untuk cucunya.
“Saya beli boneka unta ini khusus untuk cucu. Selain lucu, boneka ini khas Arab Saudi dan mudah dibawa. Saya juga membawa kurma, cokelat, dan air zamzam untuk keluarga di rumah,” ujarnya.
Bagi Ita, memilih oleh-oleh bukan soal nilai atau harga, melainkan menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang yang selama ini mendoakan keselamatan dan kelancaran ibadahnya.
“Anak dan cucu pasti senang menerima oleh-oleh dari Tanah Suci. Mudah-mudahan mereka ikut merasakan kebahagiaan kami setelah selesai menunaikan ibadah haji,” katanya sambil tersenyum.
Selain boneka unta, para jemaah juga membawa beragam buah tangan khas Arab Saudi seperti kurma, air zamzam, cokelat, tasbih, sajadah, parfum Arab, hingga aneka cendera mata lainnya. Seluruh oleh-oleh itu nantinya dibagikan kepada keluarga, tetangga, sahabat, dan kerabat sebagai ungkapan syukur setelah menuntaskan ibadah haji.
Jemaah lainnya, Abdullah, mengatakan setiap buah tangan yang dibawa pulang memiliki nilai emosional karena menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang penuh makna.
“Yang penting bukan mahalnya oleh-oleh, tetapi sebagai tanda kasih sayang dan kenang-kenangan dari perjalanan ibadah kami di Tanah Suci,” ujarnya.
Di Aceh, tradisi membawa buah tangan sepulang berhaji telah berlangsung turun-temurun. Oleh-oleh bukan sekadar benda untuk dibagikan, melainkan simbol perhatian, ungkapan terima kasih, dan ikatan silaturahmi kepada keluarga serta masyarakat yang telah mengiringi keberangkatan jemaah dengan doa.
Di antara beragam suvenir tersebut, boneka unta seolah memiliki tempat tersendiri. Hewan yang menjadi ikon padang pasir itu bukan hanya menjadi mainan bagi anak-anak, tetapi juga menghadirkan cerita tentang perjalanan panjang menunaikan rukun Islam kelima. Setiap kali dipandang, boneka kecil itu mengingatkan bahwa dari Tanah Suci, para jemaah tidak hanya membawa oleh-oleh, tetapi juga pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur, kerinduan, dan harapan untuk kembali menjadi haji yang mabrur.
[Raudhah]



