
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Demam Piala Dunia 2026 tak hanya membakar semangat pecinta sepak bola, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi malam di Banda Aceh. Tradisi nonton bareng (nobar) membuat warung-warung kopi dipenuhi pengunjung hampir setiap pertandingan, sehingga omzet pelaku usaha meningkat signifikan dibanding hari-hari biasa.
Laga-laga yang melibatkan tim besar seperti Argentina, Prancis, Brasil, Inggris hingga Portugal menjadi magnet utama yang menarik ratusan pengunjung memadati warung kopi sejak sebelum kick-off hingga peluit akhir dibunyikan.
Momentum olahraga terbesar di dunia itu bahkan mengubah wajah warung kopi menjadi pusat hiburan sekaligus ruang berkumpul masyarakat.
Salah seorang pengelola warung kopi di kawasan Blang Cut, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Muhammad Rizki, mengatakan Piala Dunia menjadi berkah tersendiri bagi usahanya.
“Alhamdulillah, sejak Piala Dunia dimulai omzet harian kami meningkat. Hampir setiap pertandingan warung selalu ramai, terutama saat tim-tim besar bermain. Banyak pengunjung datang bersama teman, keluarga, bahkan membawa anak-anak,” ujarnya, Selasa (30/6/2026) malam.
Lonjakan jumlah pelanggan mendorong pengelola melakukan berbagai pembenahan fasilitas.
Selain memasang layar lebar menggunakan proyektor, mereka juga menambah televisi, memperkuat jaringan internet, memperbanyak tempat duduk, hingga meningkatkan stok makanan dan minuman.
“Kami memasang infokus dengan layar yang lebih besar supaya pengunjung lebih nyaman menikmati pertandingan. Kami juga memastikan jaringan internet tetap stabil selama siaran berlangsung,” katanya.
Rizki menilai kebijakan TVRI Aceh yang membebaskan biaya lisensi nobar bagi warung kopi di Aceh menjadi angin segar bagi pelaku usaha.
Dengan kebijakan tersebut, pengusaha dapat menggelar nobar secara legal tanpa terbebani biaya tambahan.
Menariknya, tren pengunjung kini tidak hanya didominasi kalangan anak muda.
Banyak keluarga memilih menikmati pertandingan di warung kopi karena tersedia area bermain anak (playground), sehingga orang tua dapat menyaksikan pertandingan dengan nyaman.
“Sekarang banyak keluarga yang datang. Orang tua nonton bola, anak-anak bermain. Suasananya jadi lebih nyaman untuk semua,” ujar Rizki.
Salah seorang pengunjung, Fadil, mengaku sengaja memilih nobar di warung kopi dibandingkan menonton di rumah.
“Kalau nonton di warung kopi suasananya jauh lebih seru. Saat ada peluang atau gol semua orang bersorak bersama. Sensasinya berbeda,” katanya.
Piala Dunia 2026 pun menjadi bukti bahwa sebuah perhelatan olahraga kelas dunia mampu memberikan efek ekonomi langsung bagi pelaku usaha lokal.
Warung kopi tidak hanya menjadi tempat menikmati secangkir kopi, tetapi juga berubah menjadi ruang publik yang menggerakkan transaksi, mempererat interaksi sosial, dan menghidupkan ekonomi Kota Banda Aceh hingga larut malam.
[Raudhah]



