
Suasana di pasar Lampulo disaat harga ikan naik akibat cuaca buruk. (Foto/mediasurak.id/Raudhah)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Cuaca buruk yang melanda perairan Aceh dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Di Pasar Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, pasokan ikan menurun tajam setelah banyak nelayan memilih tidak melaut karena faktor keselamatan.
Akibat berkurangnya hasil tangkapan, harga berbagai jenis ikan mengalami kenaikan. Kondisi tersebut tidak hanya membebani konsumen, tetapi juga menyebabkan transaksi di pasar tradisional terbesar untuk komoditas perikanan di Banda Aceh itu ikut melambat.
Hujan yang terus mengguyur serta kondisi gelombang laut yang kurang bersahabat membuat aktivitas penangkapan ikan tidak berjalan normal. Dampaknya, jumlah ikan yang masuk ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo jauh berkurang dibandingkan hari-hari biasa.
Minimnya pasokan langsung memicu kenaikan harga di tingkat pedagang. Ikan bandeng yang sebelumnya dijual sekitar Rp30 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram. Kenaikan harga juga mulai terjadi pada beberapa jenis ikan lainnya seiring menipisnya stok yang tersedia.
Pedagang ikan di Pasar Lampulo, Putra, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung selama beberapa hari terakhir dan berimbas langsung pada penjualan.
“Pasokan ikan berkurang karena banyak nelayan tidak melaut akibat cuaca buruk. Harga jadi naik dan pembeli juga berkurang,” katanya, Kamis (4/6/2026).
Menurut Putra, meskipun harga jual meningkat, keuntungan pedagang tidak otomatis bertambah. Sebaliknya, jumlah pembeli justru menurun karena masyarakat mulai mengurangi belanja ikan akibat harga yang semakin tinggi.
Ia mengaku omzet penjualannya turun hingga sekitar 40 persen dibandingkan kondisi normal.
“Biasanya pembeli ramai. Sekarang banyak yang hanya melihat-lihat atau membeli dalam jumlah sedikit,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dirasakan masyarakat. Salah seorang pembeli, Maulina, mengaku harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga karena harga ikan yang terus naik dalam beberapa hari terakhir.
“Biasanya bisa beli lebih banyak, tapi sekarang terpaksa dikurangi karena harganya naik dan pilihan ikannya juga tidak sebanyak biasanya,” katanya.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana cuaca buruk tidak hanya berdampak pada nelayan sebagai pelaku utama sektor perikanan, tetapi juga memengaruhi rantai ekonomi yang lebih luas, mulai dari pedagang hingga konsumen.
Bagi masyarakat Aceh yang menjadikan ikan sebagai salah satu sumber protein utama, kenaikan harga dalam waktu singkat turut memengaruhi pola belanja rumah tangga.
Para pedagang berharap kondisi cuaca segera membaik agar nelayan dapat kembali melaut dan pasokan ikan kembali normal. Dengan meningkatnya hasil tangkapan, harga di pasaran diharapkan berangsur stabil dan aktivitas jual beli dapat kembali bergairah.
Untuk saat ini, cuaca buruk tidak hanya menciptakan gelombang tinggi di laut, tetapi juga memunculkan tekanan baru bagi ekonomi masyarakat pesisir. Ketika perahu-perahu nelayan terpaksa bersandar lebih lama di dermaga, dampaknya ikut terasa hingga ke meja makan warga yang harus membeli ikan dengan harga lebih mahal dan pilihan yang semakin terbatas.
[Raudhatul Jannah]