
Warga Palestina yang ingin pulang ke rumah dari pengungsia di hadang Israel. Foto/EFA
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Mantan Kepala Mossad Tamir Pardo melontarkan pernyataan tajam terkait meningkatnya kekerasan Israel di Tepi Barat yang diduduki. Ia bahkan mengaku merasa malu menjadi Yahudi setelah menyaksikan kondisi di lapangan.
Pardo menyamakan perlakuan terhadap warga Palestina dengan tragedi kelam yang pernah menimpa bangsa Yahudi di masa lalu. Pernyataan itu ia sampaikan saat mengunjungi sejumlah desa Palestina yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi sasaran serangan kelompok pemukim ekstremis.
“Ibu saya adalah penyintas Holocaust. Apa yang saya lihat sekarang mengingatkan saya pada apa yang dialami orang Yahudi di abad lalu,” ujar Pardo dalam wawancara dengan Channel 13.
“Apa yang saya lihat hari ini membuat saya malu menjadi Yahudi.”
Pernyataan tersebut mengguncang publik Israel karena datang dari sosok yang pernah memimpin badan intelijen paling ditakuti di negara itu. Bersama sejumlah mantan pejabat militer senior, termasuk Matan Vilnai dan Amram Mitzna, Pardo melihat langsung dampak kekerasan yang terus meluas.
Ia memperingatkan bahwa situasi di Tepi Barat kini berubah menjadi ancaman eksistensial bagi Israel sendiri. Menurutnya, aparat penegak hukum mengetahui apa yang terjadi, namun memilih diam.
Pardo juga menyoroti kuatnya pengaruh politik kelompok sayap kanan radikal dalam pemerintahan Israel. Ia menyebut upaya menindak para pemukim bersenjata justru berpotensi memicu perang saudara.
Nama-nama seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich disebut sebagai figur yang memberi ruang bagi agenda ekstremis di Tepi Barat.
Kekerasan Meningkat, Dunia Sorot Israel
Di berbagai wilayah Tepi Barat, serangan pemukim Israel dilaporkan semakin brutal: penggerebekan desa, pembakaran rumah, perusakan kebun, hingga pengusiran paksa warga Palestina. Banyak korban menuduh tentara Israel membiarkan bahkan melindungi aksi tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa berulang kali menegaskan bahwa seluruh pemukiman Israel di wilayah Palestina merupakan tindakan ilegal menurut hukum internasional.
Saat ini sekitar 750.000 pemukim Israel tinggal di 141 permukiman ilegal dan ratusan pos terdepan di Tepi Barat, termasuk sekitar 250.000 di Yerusalem Timur.
Sejak Oktober 2023, sedikitnya 1.154 warga Palestina tewas di Tepi Barat, sekitar 11.750 terluka, dan hampir 22.000 orang ditangkap menurut data Palestina.
Pernyataan Tamir Pardo memperlihatkan bahwa kritik terhadap kebijakan Israel kini tak lagi hanya datang dari luar negeri, tetapi juga dari jantung sistem keamanan mereka sendiri.[edi]
