MEDIASURAK.ID, Teheran — Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat memasuki fase paling berbahaya. Ancaman bukan lagi sekadar militer, tetapi langsung menyasar jantung perdagangan energi global.
Pemerintah Iran memperingatkan akan menutup jalur pelayaran strategis—mulai dari Laut Merah, Teluk Persia, hingga Laut Oman—jika blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz terus berlanjut.
Pernyataan keras itu disampaikan oleh pejabat militer Iran, Ali Abdollahi, yang menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan ekonomi dan militer dari Washington.
“Angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun berlangsung di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah,” tegasnya.
Taruhannya: Jalur Minyak Dunia
Ancaman ini bukan retorika biasa. Selat Hormuz, Laut Merah, dan Teluk Persia adalah urat nadi distribusi minyak global. Jika Iran benar-benar menutup jalur ini, dampaknya bisa mengguncang ekonomi dunia—dari lonjakan harga energi hingga krisis logistik.
Langkah Iran disebut sebagai respons langsung atas kebijakan Donald Trump yang memerintahkan blokade Selat Hormuz sejak 13 April 2026, guna menekan sumber pendapatan Teheran.
Blokade tersebut berlaku luas—menargetkan kapal dari berbagai negara yang beroperasi di pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Situasi makin rapuh setelah perundingan antara Washington dan Teheran di Islamabad menemui jalan buntu. Iran menolak membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan program nuklirnya.
Padahal, kedua pihak sebelumnya sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan pasca serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Kini, ancaman Iran menutup jalur perdagangan dianggap sebagai sinyal bahwa gencatan senjata berada di ambang kehancuran.
“Jika blokade berlanjut, itu berarti pelanggaran terhadap gencatan senjata,” tegas Abdollahi.
Iran: Kami Tidak Cari Perang
Di tengah tensi yang meningkat, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya tidak menginginkan perang terbuka.
Namun ia juga menolak tekanan sepihak dari Amerika Serikat, yang dinilai mencoba memaksakan kehendak di luar prinsip keadilan internasional.
“Kami tidak mencari perang, tetapi dialog. Tekanan untuk memaksa Iran menyerah pasti gagal,” ujarnya.
Ia juga melontarkan kritik keras terhadap serangan yang disebutnya menyasar fasilitas sipil.
“Apa pembenaran menyerang warga sipil, sekolah, dan rumah sakit dalam hukum internasional?” katanya.
Dunia Menahan Napas
Jika ancaman ini benar-benar diwujudkan, dunia menghadapi risiko krisis energi skala besar. Jalur pelayaran yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa bisa lumpuh dalam waktu singkat.
Konflik ini kini bukan lagi soal dua negara—tetapi pertaruhan stabilitas ekonomi global.[]
