
Ilustrasi ‘Crazy Rich’ Indonesia/Aristya Rahadian
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Jurang ketimpangan ekonomi di Indonesia kian melebar. Laporan terbaru Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkap kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia kini telah mencapai Rp4.651 triliun pada 2026—setara hampir seperlima Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Angka tersebut melonjak tajam dibanding 2019 yang berada di kisaran Rp2.508 triliun. Dalam enam tahun, kekayaan kelompok elite ini nyaris berlipat ganda.
“Kekayaan 50 orang terkaya Indonesia setara seperlima PDB Indonesia,” tulis CELIOS dalam laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Ditopang Batu Bara, Sawit, dan Nikel
Laporan itu menyoroti bahwa lebih dari separuh kekayaan kelompok super kaya berasal dari sektor ekstraktif atau eksploitasi sumber daya alam, seperti batu bara, sawit, dan nikel.
Pada periode 2019–2022, kontribusi sektor energi dan ekstraktif terhadap total kekayaan mereka berada di kisaran 39–46 persen. Namun pada 2026, porsinya melonjak menjadi 57,8 persen.
Artinya, pertumbuhan kekayaan elite nasional semakin bergantung pada bisnis penguras sumber daya alam, di tengah meningkatnya sorotan terhadap kerusakan lingkungan dan konflik agraria.
Rakyat Jauh Tertinggal
CELIOS juga mencatat kesenjangan mencolok antara kelompok super kaya dan masyarakat umum. Median kekayaan 50 orang terkaya pada 2026 mencapai Rp52,3 miliar, sementara median kekayaan penduduk Indonesia hanya Rp84,35 juta.
Kesenjangan itu diprediksi makin ekstrem pada 2050. Kekayaan median kelompok super kaya diproyeksikan melonjak 106 persen menjadi Rp107,7 triliun, sedangkan median kekayaan rakyat biasa hanya naik 20 persen menjadi Rp101 juta.
“Sektor ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam menghasilkan keuntungan besar bagi segelintir kelompok super kaya, sementara biaya kerusakan lingkungan ditanggung masyarakat,” tegas laporan tersebut.
50 Orang Kuasai 18,6% Kekayaan Rakyat
Secara statistik, 50 orang terkaya di Indonesia hanya mewakili 0,000000174 persen populasi. Namun mereka menguasai 18,6 persen total kekayaan masyarakat Indonesia.
Jika struktur ekonomi dan politik tidak berubah, CELIOS memperkirakan pada 2050 kekayaan 50 orang terkaya akan setara dengan harta 111 juta penduduk Indonesia.
Simpanan Jumbo Dominasi Bank
Ketimpangan juga terlihat dari struktur simpanan perbankan. Dana nasabah dengan tabungan di atas Rp5 miliar kini menguasai 56,45 persen total uang di bank. Padahal, sekitar 98,91 persen nasabah di Indonesia memiliki saldo di bawah Rp100 juta.
Nilai simpanan jumbo itu melonjak dari Rp1.564 triliun pada 2014 menjadi Rp5.463 triliun pada 2025. Sebaliknya, pertumbuhan tabungan masyarakat kecil jauh lebih lambat.
Alarm Serius Ekonomi Nasional
Temuan ini menjadi peringatan keras bahwa pertumbuhan ekonomi nasional belum otomatis menghadirkan pemerataan. Ketika segelintir elite menikmati lonjakan triliunan rupiah, jutaan warga masih berkutat pada persoalan paling dasar: biaya hidup, lapangan kerja, dan kebutuhan makan sehari-hari.
Di tengah narasi Indonesia menuju negara maju, data ini menunjukkan satu kenyataan pahit: kekayaan tumbuh cepat, tetapi tidak mengalir merata.[dk]
