
MEDIASURAK.ID MANGGARAI BARAT – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan penanganan darurat gempa M7,7 yang melanda Nusa Tenggara Timur. Hingga Rabu (19/8/2026) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 71 jiwa.
“Penambahan satu korban meninggal berada di wilayah Kabupaten Nagekeo,”kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D dalam siaran pers, Jumat (21/08/2026).
Berton mengatakan, selain pencarian korban, pemerintah telah menyalurkan 398 ton logistik baik melalui udara maupun laut. Jalur darat masih menjadi opsi utama penyaluran bantuan yang dilakukan bertahap, dari titik logistik menuju lokasi pengungsian.
” Penyaluran menyesuaikan kondisi geografis dan akses jalan menuju titik pengungsian. pemerintah juga mengoptimalkan transportasi laut untuk menjangkau wilayah lebih luas. KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai Selasa (18/8/2026) kemarin,”kata Berton.
Kapal tersebut lanjut Berton membawa paket bantuan BNPB berupa sembako, tenda keluarga dan tenda pengungsi, serta bantuan dari berbagai unsur masyarakat. Penanganan pengungsi menjadi fokus utama karena sebagian masyarakat memilih untuk tidak kembali ke rumah akibat kondisi bangunan yang rusak dan kekhawatiran gempa susulan.
“Berdasarkan pemutakhiran data per Rabu (19/8) pukul 16.00 WIB, total pengungsi sebanyak 59.647 dengan jumlah pengungsi terbanyak di Kabupaten Manggarai sebanyak 20.333 jiwa,”ungkapnya.
Pemerintah daerah bersama BNPB memastikan pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian, meliputi makanan dan air bersih, tenda, matras dan selimut, layanan kesehatan, sanitasi dan kebersihan, serta pemenuhan kebutuhan kelompok rentan termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas. Penanganan tidak hanya dilakukan di satu lokasi terpusat mengingat masyarakat tersebar di sejumlah titik.
“Maka pendataan dan distribusi bantuan dilakukan secara bertahap hingga menjangkau lokasi pengungsian mandiri. Pemerintah daerah juga didorong memperkuat posko dan satuan tugas sehingga seluruh kebutuhan masyarakat dapat tercatat dan ditangani tepat sasaran,”tuturnya.
Untuk mempercepat penanganan darurat, pemerintah mengerahkan sumber daya nasional termasuk TNI/Polri dan seluruh unsur pentaheliks. Pengerahan tersebut ditujukan untuk mendukung mobilisasi personel, logistik, pelayanan kesehatan, serta menjangkau wilayah yang memiliki kendala akses. Pesawat dan kapal militer digunakan sebagai bagian dari dukungan transportasi udara dan laut.
“Seluruh pengerahan sumber daya ini diarahkan untuk satu tujuan, yaitu mempercepat pelayanan kepada masyarakat terdampak. Ini menjadi momentum bahwa pemerintah hadir dan terus bekerja untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. BNPB memastikan dukungan akan terus diberikan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi di lapangan hingga tahap pemulihan,”tutupnya.



