
Truk dan kenderaan lain dari arah Medan sedang melewati jembatan Kuta Blang, Bireuen dan kenderaan lain dari arah Banda Aceh harus mengantre sampai 1 jam. Foto/suratmedia.id/Helmi Hass
MEDIASURAK.ID, Banda Aceh – Perjalanan dari Banda Aceh–Medan kembali tersendat parah di kawasan Jembatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen. Antrean kendaraan mengular hingga satu jam, bahkan lebih lama pada malam hari, akibat pola buka-tutup arus di jembatan darurat Bailey yang terlalu lama.
Jembatan ini sejatinya hanya solusi sementara, dibangun setelah jembatan utama hancur diterjang banjir bandang. Namun hingga kini, kondisi darurat itu seolah menjadi permanen—tanpa kepastian perbaikan menyeluruh.
Keluhan pengguna jalan pun kian memuncak.
“Seharusnya buka per arah maksimal 30 menit, jangan sampai satu jam. Ini sudah sangat mengganggu. Gara-gara macet di sini, jadwal pertemuan saya batal,” ujar seorang pejabat dari Aceh Utara yang meminta identitasnya dirahasiakan sambil mengerutu saat antre terlalu lama, Kamis siang (30/4/26).
Tidak hanya pejabat, masyarakat umum merasakan dampak yang lebih berat. Seorang penumpang minibus L300 tujuan Aceh Timur terpaksa menurunkan anaknya untuk mencari tempat teduh, setelah berjam-jam terjebak dalam kendaraan tanpa pendingin udara.
“Cara pengaturan arus ini tidak masuk akal. Kami kepanasan, belum makan, dan harus menunggu terlalu lama,” keluhnya.
Kekecewaan serupa disampaikan jurnalis asal Banda Aceh, Dedi Farhurrshman, yang hendak menuju Lhokseumawe. Ia menyebut pola buka-tutup yang terlalu lama sebagai bentuk ketidakefisienan yang merugikan banyak pihak.
“Penutupan sampai satu jam itu berlebihan. Bahkan 30 menit saja sudah lama. Ini jelas mengganggu aktivitas masyarakat dan tidak mencerminkan manajemen lalu lintas yang baik,” ujarnya.
Jembatan Bailey yang digunakan saat ini kerap mengalami kerusakan akibat dilintasi kendaraan over kapasitas. Kondisi ini memperparah situasi, karena selain membatasi arus kendaraan, juga menimbulkan risiko keselamatan.
Hingga kini, belum terlihat langkah konkret percepatan pembangunan jembatan permanen. Padahal, jalur ini merupakan urat nadi transportasi utama yang menghubungkan pantai utara Aceh dengan Sumatera Utara.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya waktu masyarakat yang terbuang, tetapi juga potensi kerugian ekonomi yang semakin membesar.[hh]
