
“Ornamen Aceh memiliki filosofi, nilai historis, dan estetika yang kaya. Tantangan kita adalah mengembangkannya menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah, berdaya saing, dan mampu menembus pasar internasional. Budaya harus menjadi kekuatan ekonomi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Direktur Badan Pekerja AMANAH Aceh, Dr. Safwan Nurdin, disela membuka festival.
Safwan mengatakan pelestarian ornamen Aceh tidak hanya sebagai upaya menjaga identitas daerah, tetapi harus diiringi inovasi agar keberadaannya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Motif-motif khas Aceh lanjutnya, memiliki potensi besar diterapkan pada berbagai produk industri kreatif, seperti fesyen, kriya, desain interior, suvenir, kemasan produk, hingga karya digital.
“Dengan pengembangan desain yang menyesuaikan kebutuhan pasar, ornamen Aceh akan menjadi identitas produk unggulan yang diminati konsumen tak hanya tingkat nasional bahkan internasional,”tuturnya.
Menurutnya Aceh harus belajar dari negara yang berhasil menjadikan identitas budayanya sebagai kekuatan industri kreatif. Ini karena provinsi di ujung Pulau Sumatera itu memiliki modal budaya yang sama besarnya yang membutuhkan kolaborasi baik pemerintah, akademisi, pelaku usaha, seniman, dan komunitas kreatif.
“Melalui sinergi berbagai pihak, ornamen Aceh berpotensi menjadi identitas produk ekspor unggulan sekaligus memperkuat posisi Aceh dalam industri ekonomi kreatif nasional,” ujarnya.
Festival yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP ini akan diisi kegiatan seminar sejarah, dan filosofi ornamen Aceh. Peserta juga akan mengikuti lokakarya eksplorasi motif tradisional, serta sesi kolaborasi yang mempertemukan seniman, desainer, akademisi, pelaku UMKM, dan komunitas kreatif.
“Seluruh rangkaian kegiatan dibuka secara gratis bagi masyarakat. Pelajar, mahasiswa, pegiat seni, desainer, pelaku UMKM, hingga komunitas kreatif diharapkan memanfaatkan festival ini untuk meningkatkan keterampilan, memperluas jejaring, dan melahirkan inovasi berbasis budaya lokal,”tutupnya.



