
CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh – Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan awal pekan di zona hijau meski hanya menguat tipis. Mata uang Garuda ditutup naik 0,03 persen ke level Rp17.185 per dolar AS pada perdagangan Senin (27/4/2026), setelah sempat tertekan cukup dalam sepanjang hari.
Mengacu data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan stagnan di posisi Rp17.190 per dolar AS, sama seperti penutupan sebelumnya. Namun tekanan pasar sempat menyeret rupiah ke level terlemah harian di Rp17.235 per dolar AS, sebelum akhirnya berbalik arah dan ditutup menguat.
Pergerakan ini menunjukkan rupiah masih rentan diguncang sentimen global, tetapi tetap memiliki daya tahan di tengah tekanan eksternal.
Dolar Global Masih Stabil
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) hingga pukul 15.00 WIB terpantau relatif datar di level 98,530. Stabilnya dolar menandakan pelaku pasar global masih bersikap wait and see terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve dan kondisi geopolitik dunia.
Perry: Dunia Tidak Baik-Baik Saja
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global saat ini masih penuh tantangan. Menurutnya, ketidakpastian dunia belum mereda dan pertumbuhan ekonomi global cenderung melambat.
“Dampak konflik Timur Tengah sungguh dicermati dan diwaspadai, tidak hanya minyak tinggi, tetapi juga tingginya suku bunga AS, aliran modal keluar, dan tekanan ekonomi kita,” ujarnya dalam forum National Policy Dialogue dan Kick Off PINISI.
Tiga Ancaman untuk Rupiah
Setidaknya ada tiga faktor utama yang masih membayangi rupiah:
- Konflik Timur Tengah yang berpotensi mendorong harga minyak tetap tinggi.
- Suku bunga AS yang masih tinggi, membuat investor memilih aset dolar.
- Arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Jika tekanan ini berlanjut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.
Strategi Jaga Ekonomi Domestik
Untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, Bank Indonesia bersama pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, pelaku usaha, dan investor mendorong program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI).
Program ini diarahkan untuk memperkuat pembiayaan, mempercepat realisasi proyek, dan menjaga momentum pertumbuhan di tengah badai global.
Sinyal Pasar
Penguatan tipis rupiah hari ini memang belum cukup menjadi tanda tren baru. Namun setidaknya pasar memberi sinyal bahwa mata uang Indonesia masih mampu bertahan, meski diterpa kombinasi tekanan geopolitik, dolar kuat, dan ketidakpastian global.
Bagi pelaku usaha dan masyarakat, angka Rp17.185 per dolar menunjukkan satu hal: rupiah masih berjuang, tapi belum menyerah.[dk]
