
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Sejarah baru tercipta di lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK). Di tengah dominasi laki-laki dalam jajaran pimpinan perguruan tinggi, sosok perempuan muda berjilbab putih berdiri tenang namun penuh wibawa di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Rabu (13/5/2026).
Dialah Dr Rina Suryani Oktari SKep MSi FRSPH, atau akrab disapa Okta, yang resmi dilantik sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK periode 2026-2031 oleh Rektor Prof Mirza Tabrani.
Di usia yang baru menginjak 42 tahun tujuh bulan, Okta mencatat sejarah sebagai perempuan muda pertama yang dipercaya menduduki kursi wakil rektor di kampus terbesar di Aceh itu.
Pelantikan tersebut turut dilakukan bersama Wakil Rektor Bidang Akademik Prof Heru Fahlevi, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan Dr Fairuzzabadi, serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan dan Bisnis Dr Ramzi Adriman.
“Amanah ini bukan semata tentang pencapaian pribadi, melainkan bagian dari perjalanan panjang USK sebagai institusi yang terus bertumbuh menjadi kampus yang lebih inklusif dan terbuka bagi semua untuk berkontribusi,” ujar Okta.
Perjalanan akademik perempuan kelahiran Bandung, Oktober 1983 itu juga tidak biasa. Setelah sempat menempuh pendidikan di Universitas Indonesia, ia memilih melanjutkan pendidikan di USK hingga meraih gelar doktor dengan IPK sempurna 4.00 pada Program Studi Matematika dan Aplikasi Sains tahun 2021.
Sebelumnya, ia menyelesaikan S1 Ilmu Keperawatan pada 2008 dan S2 Ilmu Kebencanaan pada 2013. Latar belakang akademik lintas disiplin itu menjadikan Okta dikenal luas sebagai akademisi yang kuat dalam isu kesehatan, kebencanaan, pendidikan, dan pengembangan sosial masyarakat.
Kariernya terus menanjak. Sebelum menjadi wakil rektor, Okta menjabat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan Fakultas Kedokteran USK sejak 2024. Ia juga aktif sebagai Coordinator Disaster Education Research Cluster TDMRC-USK, Ketua Pokja Sosio-Kultural Kebencanaan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), hingga Associate Editor jurnal internasional bergengsi International Journal of Disaster Risk Reduction terbitan Elsevier.
Tak hanya dikenal di dunia akademik, perempuan berdarah Peukan Bada, Aceh Besar itu juga pernah bekerja bersama sejumlah lembaga internasional seperti UNICEF, UNESCO, Islamic Relief, hingga program AusAID Australia.
Deretan prestasi nasional dan internasional turut mengiringi langkahnya. Pada 2025, Okta meraih penghargaan Ilmuwan Muda Terbaik Bidang Sosial Humaniora dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI. Ia juga tercatat sebagai Dosen Berprestasi Utama II tingkat USK.
Namun bagi Okta, kepemimpinan bukan sekadar jabatan. Ibu tujuh anak itu ingin menghadirkan kampus yang lebih manusiawi, suportif, dan dekat dengan kebutuhan mahasiswa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ia menilai mahasiswa saat ini menghadapi tekanan yang jauh lebih berat dibanding generasi sebelumnya, mulai dari kesehatan mental, tekanan akademik, perubahan sosial digital, hingga tantangan ekonomi dan dunia kerja.
Karena itu, ia ingin membangun sistem pendampingan mahasiswa yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan, karakter, kreativitas, kepemimpinan, dan ketahanan mental mahasiswa.
“Kampus harus menjadi ruang aman untuk bertumbuh, belajar, berdiskusi, berinovasi, dan membangun mimpi,” kata Okta.
Ia juga menaruh perhatian besar pada pengembangan kewirausahaan mahasiswa. Menurutnya, USK memiliki potensi besar melahirkan startup dan inovasi mahasiswa yang mampu memberi dampak ekonomi maupun sosial bagi masyarakat Aceh.
Ke depan, Okta ingin memperkuat inkubasi bisnis mahasiswa, jejaring industri dan alumni, serta sistem mentoring yang berkelanjutan.
“Harapan saya, mahasiswa dan alumni USK tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial, jiwa kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menjadi problem solver bagi masyarakat,” pungkasnya. [am]