
Ratusan siswa di Aceh Tengah masih belajar di tenda pasca banjir bandang November 2025 lalu, Foto/Try Vanny
MEDIASURAT.ID, BANDA ACEH – Tujuh bulan setelah banjir bandang melanda Kabupaten Aceh Tengah, ratusan siswa masih harus belajar di tenda darurat dengan fasilitas yang jauh dari memadai. Kondisi ini memicu keprihatinan sekaligus kritik dari Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (DEMA FTK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang menilai pemulihan sektor pendidikan berjalan lambat dan belum menyentuh kebutuhan mendasar para peserta didik.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah per 11 Mei 2026, sedikitnya 12 sekolah masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bawah tenda darurat. Total terdapat 815 siswa yang hingga kini belum dapat menikmati fasilitas pendidikan yang layak akibat kerusakan bangunan sekolah pascabencana.
Ketua DEMA FTK UIN Ar-Raniry, Muhammad Alfajri Marpaung, menilai kondisi tersebut menunjukkan belum optimalnya kehadiran negara dalam menjamin hak pendidikan anak-anak yang terdampak bencana.
“Sudah tujuh bulan sejak bencana terjadi, namun ratusan siswa masih belajar di tenda darurat. Jangan sampai pemulihan hanya menjadi narasi di atas kertas sementara anak-anak terus menanggung dampaknya di lapangan,” ujarnya.

Muhammad Alfajri Marpaung
Menurut Alfajri, persoalan yang dihadapi tidak hanya menyangkut keterbatasan sarana belajar. Para guru juga harus bekerja dalam kondisi yang serba terbatas, bahkan ada yang mengajar seluruh mata pelajaran untuk berbagai tingkatan kelas di tenda darurat dengan honor sekitar Rp250 ribu per bulan.
“Dedikasi para guru patut diapresiasi. Namun pengabdian mereka tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan kondisi ini berlangsung terlalu lama,” katanya.
DEMA FTK menilai keterlambatan rehabilitasi sekolah berpotensi memengaruhi kualitas pembelajaran dan perkembangan peserta didik. Di tengah cuaca yang tidak menentu, siswa harus belajar dalam kondisi panas maupun hujan tanpa fasilitas yang memadai.
Karena itu, organisasi mahasiswa tersebut mendesak Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk segera menyampaikan langkah konkret dan target waktu yang jelas terkait rehabilitasi sekolah-sekolah terdampak.
“Jika pendidikan benar-benar menjadi prioritas nasional, maka tidak seharusnya ada 815 siswa yang bertahan berbulan-bulan di tenda darurat sambil menunggu kepastian pembangunan sekolah mereka,” tegas Alfajri.
DEMA FTK juga menyatakan akan terus mengawal proses pemulihan pendidikan di Aceh Tengah serta mendorong keterlibatan masyarakat sipil, mahasiswa, dan media dalam memastikan hak pendidikan anak-anak terdampak bencana benar-benar terpenuhi.
“Anak-anak Aceh Tengah membutuhkan ruang belajar yang layak, bukan sekadar janji. Delapan ratus lima belas siswa sudah terlalu lama menunggu,” pungkasnya.[]