
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Lonjakan harga bahan bakar kembali memukul kantong. BBM diesel non-subsidi di SPBU swasta kini menembus angka psikologis Rp 30 ribu per liter—membuat biaya hidup, terutama bagi pengguna mobil diesel, melonjak tajam.
Kenaikan ini terjadi di SPBU milik BP dan Vivo Energy. Per 2 Mei 2026, harga diesel seperti BP Ultimate Diesel dan Diesel Primus resmi naik menjadi Rp 30.890 per liter—melonjak signifikan dari sebelumnya Rp 25.560.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini langsung terasa di dompet.
Satu Tangki Tembus Rp 2,4 Juta
Bagi pemilik SUV diesel populer seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport, kenaikan ini berarti satu hal: biaya isi penuh makin “menggigit”.
- Fortuner (tangki 80 liter):
Isi penuh dari nol bisa mencapai Rp 2,47 juta
Jika sisa 5 liter: sekitar Rp 2,31 juta - Pajero Sport (tangki 68 liter):
Isi penuh dari nol sekitar Rp 2,10 juta
Jika sisa 5 liter: sekitar Rp 1,94 juta
Dengan kata lain, satu kali isi penuh kini setara biaya hidup mingguan—bahkan bulanan bagi sebagian orang.
Kenaikan ini tak hanya berdampak pada pemilik kendaraan pribadi.
Efek berantai bisa menjalar ke sektor logistik, distribusi barang, hingga harga kebutuhan pokok.
Sebab kendaraan diesel selama ini menjadi tulang punggung transportasi—baik untuk bisnis maupun mobilitas jarak jauh.
Di sisi lain, standar mesin diesel modern seperti Euro4 memang menuntut BBM dengan kadar sulfur rendah (maksimal 50 ppm). Artinya, pengguna praktis “terkunci” pada BBM non-subsidi yang harganya kini makin tinggi.
Tekanan Energi Makin Nyata
Lonjakan harga ini juga mencerminkan tekanan global di sektor energi—mulai dari fluktuasi minyak dunia hingga dinamika geopolitik.
Namun bagi masyarakat, dampaknya sederhana:
biaya bergerak makin mahal.
Dan ketika biaya bergerak naik,
harga-harga lain biasanya ikut menyusul.
Kebutuhan dan Kemampuan
Kini, pengguna kendaraan diesel dihadapkan pada pilihan sulit:
tetap memakai BBM berkualitas dengan harga mahal, atau mencari alternatif dengan risiko terhadap mesin.
Satu hal yang pasti— harga Rp 30 ribu per liter bukan lagi wacana. Ia sudah jadi kenyataan.[edi]
