
Dr Hendra Zufry saat menerima hadiah Rp 100 juta sebagai juara I Prodia Science Award 2026.
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra terbaik Aceh di dunia kesehatan nasional dan internasional. Dr dr Hendra Zufry, Sp.PD, K-EMD, FINASIM berhasil raih Juara 1 Prodia Science Award 2026 yang digelar di Auditorium Lantai 10 Prodia Tower, Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik diabetes di RSUD dr Zainoel Abidin sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala itu meraih hadiah Rp100 juta setelah mengalahkan sejumlah peneliti dan akademisi papan atas Indonesia.
Yang membuat prestasi ini semakin istimewa, Dr Hendra mampu unggul dari para finalis lain, termasuk peneliti alumni Fakultas Kedokteran Oxford yang kini bekerja di BRIN, serta dosen dari Universitas Padjadjaran Bandung.
“Alhamdulillah, seperti mimpi. Masuk nominasi saja saya sudah sangat bersyukur. Tak terbayangkan bisa menjadi juara pertama,” ujar alumni Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala itu dengan rendah hati.
Prestasi tersebut diraih berkat inovasi TAGTO atau Terapi Ablasi Gondok Tanpa Operasi, sebuah metode penanganan gondok tanpa pembedahan yang dikembangkan Dr Hendra. Inovasi itu sebelumnya telah membawa namanya tampil sebagai finalis dalam ajang bergengsi 47th World Hospital Congress di Brasil dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia di forum rumah sakit dunia tersebut.
TAGTO dinilai sebagai terobosan penting di bidang kesehatan karena mampu mengurangi risiko komplikasi operasi gondok serta memberikan solusi medis yang lebih aman bagi pasien. Inovasi tersebut bahkan masuk kategori inovasi berkelanjutan terbaik dunia bersama peneliti dari Singapura.
Di tengah keterbatasan fasilitas daerah dan kondisi Aceh yang kerap dilanda bencana, Dr Hendra justru melihat tantangan sebagai ruang lahirnya riset dan inovasi besar.
“Aceh jangan dijadikan alasan kekurangan. Justru harus menjadi pembeda dengan daerah lain,” katanya optimistis.
Baginya, penghargaan itu bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan pesan penting bagi dokter muda Aceh dan Indonesia agar tidak takut berkarya meski berasal dari daerah yang serba terbatas.
Menurut Dr Hendra, riset dan inovasi adalah jalan untuk membangun masa depan dunia kedokteran Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing global. Karena itu, ia terus aktif melakukan penelitian, termasuk menyiapkan riset terkait dampak bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Tujuan saya terus meneliti dan membuat inovasi adalah memberi motivasi dan inspirasi kepada dokter-dokter muda agar terus berkarya,” ujarnya.
Ajang Prodia Science Award sendiri dikenal memiliki proses seleksi yang sangat ketat. Para peserta dinilai berdasarkan rekam jejak riset, publikasi ilmiah, hak paten, inovasi, hingga kontribusi nyata di bidang kesehatan.
Kini, setelah meraih juara nasional, Dr Hendra juga tengah menunggu hasil nominasi Anugerah Tiroid Asia Pasifik di Korea Selatan. Dalam ajang itu, ia bersaing dengan kandidat dari Jepang dan Korea Selatan sebagai tiga finalis terakhir.
Prestasi Dr Hendra Zufry menjadi bukti bahwa dokter dan peneliti dari Aceh mampu berdiri sejajar di panggung dunia. Dari sebuah rumah sakit daerah di ujung barat Indonesia, lahir inovasi yang kini mulai diperhitungkan di tingkat internasional.[HH]
