
Keumamah Cut Kak.Foto.mediasurak.id,Raudhah
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Musim haji tahun ini membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha kuliner khas Aceh. Permintaan keumamah atau ikan kayu siap saji dilaporkan melonjak tajam, terutama dari para jemaah calon haji yang menjadikan makanan khas tersebut sebagai bekal praktis selama di Tanah Suci.
Lonjakan pesanan itu dirasakan langsung oleh Keumamah Cut Kak yang mencatat produksi hingga sekitar 2.000 kemasan selama musim haji 2026.
Founder Keumamah Cut Kak, Irvadiarni Falka, mengatakan peningkatan permintaan tahun ini terjadi cukup signifikan dibandingkan hari biasa.
“Alhamdulillah meningkat pesat, dalam bulan haji ini kurang lebih 2.000 pcs,” ujar Irvadiarni, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, pesanan tidak hanya datang dari masyarakat Aceh, tetapi juga dari berbagai daerah di luar provinsi melalui pemesanan daring dan marketplace.
“Yang dari marketplace itu jemaah luar Aceh juga, seperti Jakarta, Palembang, Kalimantan dan lainnya,” katanya.
Jadi Bekal Favorit Jemaah Haji
Keumamah dikenal sebagai salah satu makanan tradisional Aceh yang praktis dan tahan lama. Produk ini dibuat dari ikan tuna yang direbus, dikeringkan, lalu dimasak menggunakan bumbu khas Aceh.
Karena daya tahannya yang lama dan tidak perlu dipanaskan sebelum dikonsumsi, keumamah menjadi pilihan favorit para jemaah haji sebagai bekal selama perjalanan maupun saat berada di Arab Saudi.
Irvadiarni menyebut pembelian oleh calon jemaah haji rata-rata dilakukan dalam jumlah cukup banyak.
“Biasanya minimal beli lima kemasan,” ujarnya.
Selain pembelian individu, pihaknya juga menerima pesanan dalam jumlah besar dari instansi pemerintah.
“Beberapa waktu lalu kami dapat order dari kantor Wali Kota untuk peusijuk jamaah haji Banda Aceh,” tambahnya.
Produksi Naik, Varian Semakin Lengkap
Pada musim haji tahun ini, produksi Keumamah Cut Kak meningkat dari sekitar 1.500 kemasan menjadi 2.000 kemasan.
Produk tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari travel size hingga kemasan 500 gram, dengan dua pilihan rasa yakni original dan pedas.
Dari sisi harga, keumamah siap saji ini dijual mulai Rp35 ribu hingga Rp180 ribu tergantung ukuran dan varian.
Selain praktis, produk ini juga memiliki masa simpan cukup lama, mencapai enam bulan pada suhu ruang dan hingga satu tahun jika disimpan dalam kondisi beku.
Lonjakan permintaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kuliner tradisional Aceh masih memiliki daya tarik kuat, tidak hanya bagi masyarakat lokal tetapi juga pasar nasional.
(Raudhatul Jannah)