
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) belum sepenuhnya mampu menekan rupiah. Di tengah pelemahan delapan dari sepuluh mata uang Asia, rupiah justru bergerak di zona hijau dan menjauh dari level psikologis Rp17.900 per dolar AS, menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.10 WIB, delapan dari sepuluh mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Hanya ringgit Malaysia dan rupiah yang mampu bertahan di zona hijau.
Ringgit Malaysia mencatat penguatan tertinggi sebesar 0,42 persen ke posisi MYR4,068 per dolar AS, disusul rupiah yang terapresiasi 0,20 persen. Penguatan tersebut membuat rupiah menjauh dari level psikologis Rp17.900 per dolar AS yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian pelaku pasar.
Sebaliknya, tekanan paling besar dialami won Korea Selatan yang melemah 0,49 persen ke posisi KRW1.542,4 per dolar AS. Baht Thailand juga terkoreksi 0,42 persen menjadi THB33,40 per dolar AS.
Mata uang Asia lainnya turut bergerak melemah. Dong Vietnam turun 0,22 persen ke VND26.305 per dolar AS, diikuti dolar Singapura yang melemah 0,10 persen menjadi SGD1,294 per dolar AS. Yuan China terkoreksi 0,07 persen, dolar Taiwan melemah 0,05 persen, peso Filipina turun 0,02 persen, sedangkan yen Jepang terkoreksi tipis 0,01 persen.
Penguatan rupiah terjadi meski indeks dolar AS (DXY) hanya melemah tipis 0,01 persen ke level 101,347. Posisi tersebut menunjukkan mata uang Negeri Paman Sam masih bertahan di level tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda. Meski Amerika Serikat dan Iran dikabarkan sepakat menghentikan aksi saling serang dan akan melanjutkan pertemuan di Qatar, kondisi gencatan senjata dinilai masih rapuh sehingga investor tetap berhati-hati.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat terganggunya jalur pengiriman energi di Selat Hormuz turut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman. Kekhawatiran inflasi global pun kembali mengemuka seiring naiknya harga energi.
Sentimen lain datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar kini menilai peluang suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama setelah muncul sinyal hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 29,90 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28–29 Juli mendatang. Sementara peluang suku bunga tetap dipertahankan berada di kisaran 70,10 persen.
Selain itu, aksi jual di pasar saham global, terutama sektor teknologi, juga mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman, termasuk dolar AS.
Pasar kini menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran, yang akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed sekaligus pergerakan dolar AS dalam beberapa pekan ke depan.
Head of Foreign Exchange Commonwealth Bank of Australia, Joseph Capurso, memperkirakan dolar AS masih memiliki ruang untuk menguat.
“Kami memperkirakan dolar AS akan bergerak lebih tinggi dalam beberapa pekan mendatang karena narasi keunggulan ekonomi AS,” ujarnya seperti dikutip Reuters.
Menurut Capurso, apabila pasar tenaga kerja Amerika tetap kuat, maka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan semakin besar, sehingga turut menopang penguatan dolar AS.
Meski demikian, penguatan rupiah di tengah dominasi pelemahan mata uang Asia menjadi sinyal positif bahwa kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. Tantangan ke depan memang belum ringan, terutama jika tensi geopolitik kembali meningkat dan kebijakan suku bunga AS tetap ketat. Namun, kemampuan rupiah bertahan di tengah derasnya tekanan eksternal menunjukkan mata uang nasional masih memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi gejolak pasar global.[edi]



