
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Di tengah agresivitas militer Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran, sebuah ancaman justru muncul dari dalam tubuhnya sendiri. Pentagon kini diguncang konflik internal yang dinilai berpotensi lebih berbahaya dibanding tekanan eksternal di medan perang.
Selama 38 hari operasi udara, militer AS menunjukkan superioritasnya dengan lebih dari 13.000 sorti tempur, menghantam berbagai target strategis Iran—mulai dari fasilitas industri hingga situs nuklir. Namun di balik dominasi militer tersebut, stabilitas internal justru mengalami erosi serius.
Gelombang Pemecatan dan Tuduhan Politisasi
Pusat gejolak berada pada Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang melakukan serangkaian pemecatan terhadap petinggi militer. Pada 2 April 2026, ia mencopot Jenderal Randy George, salah satu perwira tertinggi Angkatan Darat AS, bersama dua pejabat senior lainnya.
Langkah ini dinilai tidak lazim—bahkan belum pernah terjadi—karena dilakukan saat AS sedang terlibat dalam operasi militer besar.
Sejumlah mantan pejabat militer menyebut Pentagon kini berada dalam kondisi:
- Sarat dendam internal
- Terpapar politisasi kepemimpinan
- Didorong agenda ideologis tertentu
Hegseth sendiri dituding mencoba menggeser budaya militer menuju pendekatan yang lebih “maskulin” dan anti-woke, yang oleh kritiknya dinilai berisiko merusak profesionalisme dan netralitas militer.
21 Jenderal Disingkirkan, Profesionalisme Dipertanyakan
Sejak menjabat, Hegseth disebut telah menyingkirkan setidaknya 21 jenderal, sebagian besar tanpa penjelasan yang transparan. Banyak pihak menilai keputusan tersebut bukan semata soal kinerja, melainkan diduga berkaitan dengan:
- Perbedaan pandangan politik
- Isu ras dan gender
- Loyalitas personal
Kebijakan ini memicu efek domino di tubuh militer:
- Perwira memilih pensiun dini
- Kandidat menarik diri dari promosi
- Moral internal mengalami tekanan
Kori Schake dari American Enterprise Institute menyebut situasi ini sebagai anomali berbahaya, karena mengorbankan pengalaman dan kapasitas kepemimpinan yang dibangun selama puluhan tahun.
Kontroversi Pengangkatan dan Kepemimpinan
Pengangkatan Jenderal Christopher LaNeve sebagai pengganti Randy George juga menuai kritik. Meski dianggap kompeten, ia dinilai memiliki pengalaman terbatas untuk posisi strategis Kepala Staf Angkatan Darat.
Kedekatannya dengan Hegseth memunculkan pertanyaan: apakah meritokrasi masih menjadi dasar utama dalam struktur militer AS, atau mulai tergeser oleh faktor kedekatan politik?
Benturan Nilai: Militer vs Agenda Politik
Kekhawatiran paling serius datang dari kalangan hukum militer. Sejumlah pejabat menilai ada kecenderungan baru di mana:
- Hukum digunakan untuk membenarkan kebijakan, bukan membatasinya
- Prinsip hukum internasional mulai diabaikan
- Nilai dasar militer AS mulai terkikis
Seorang pejabat senior menyebut pola pikir yang berkembang sebagai “menang dengan segala cara”, yang berpotensi merusak fondasi etika militer modern.
Efektif di Medan Perang, Rapuh di Dalam
Ironisnya, di tengah kekacauan internal tersebut, militer AS tetap tampil efektif di medan tempur. Keunggulan teknologi, pengalaman panjang, dan sistem operasi yang matang masih mampu menjaga performa tempur.
Namun para analis mengingatkan, kerusakan institusional tidak selalu langsung terlihat di medan perang—melainkan akan berdampak jangka panjang pada:
- Kualitas kepemimpinan
- Stabilitas organisasi
- Kredibilitas global militer AS
Jika tidak segera diatasi, konflik internal ini berpotensi meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang dibanding perang yang sedang berlangsung.[]
