
M Alfaruq Addawami (16) bersama sang ibu Nurhayati, Foto/mediasurak.id/Raudhah
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Di tengah ribuan jamaah calon haji asal Aceh tahun ini, sosok seorang remaja berseragam biru tampak berbeda. Wajahnya masih sangat muda, tutur katanya lembut, namun langkahnya menyimpan amanah besar.
Namanya Muhammad Alfaruq Addawami. Usianya baru 16 tahun. Namun tahun ini, ia tercatat sebagai jemaah haji termuda dari Aceh.
Remaja asal Desa Pante Raya, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah itu berangkat ke Tanah Suci bukan sekadar memenuhi panggilan ibadah. Ia membawa amanah yang tak ringan: menggantikan almarhum ayahnya yang wafat pada 2021 sekaligus mendampingi sang ibu menunaikan ibadah haji.
Di balik keberangkatan itu, tersimpan kisah kehilangan, kesabaran, dan penantian panjang selama 14 tahun.
“Saya doa semoga amal ibadah kami diterima, umur saya dikuatkan, dan semoga semua ini sesuai dengan yang Allah kehendaki,” ujar Alfaruq lirih.
Di usianya yang masih belia, kehidupan Alfaruq jauh dari gambaran remaja kebanyakan. Saat teman-teman seusianya sibuk dengan permainan dan media sosial, ia memilih mendalami ilmu agama sebagai santri di Dayah Darul Khairat, Bireuen.
Di dayah itulah ia menumbuhkan cita-cita besarnya.
“Saya ingin menjadi ulama,” katanya singkat namun penuh keyakinan.
Keberangkatan ke Tanah Suci menjadi pengalaman yang begitu berarti bagi Alfaruq. Sejak memasuki Asrama Haji Embarkasi Aceh, ia tampak tenang mengenakan seragam jamaah lengkap dengan kartu identitas yang tergantung di lehernya. Sesekali ia membantu sang ibu mengurus barang bawaan sambil mengikuti arahan petugas.
Bagi ibunya, Nurhayati, perjalanan ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kerinduan yang belum sempat dituntaskan bersama suami tercinta.
Ia mengenang bagaimana dirinya mendaftar haji sejak 2012. Namun keberangkatan itu sempat tertunda bertahun-tahun, termasuk akibat pandemi COVID-19.
“Alhamdulillah, setelah penantian 14 tahun akhirnya kami bisa berangkat,” ujarnya haru.
Meski harus berangkat tanpa sang suami, Nurhayati merasa perjalanan itu tetap lengkap karena ditemani anak lelaki satu-satunya.
Sebelum memutuskan membawa Alfaruq menggantikan ayahnya, ia terlebih dahulu meminta keikhlasan dari anak-anaknya yang lain.
“Saya punya empat anak. Saya tanya dulu ke kakak-kakaknya apakah ikhlas adiknya berangkat menggantikan almarhum ayahnya. Mereka bilang ikhlas,” katanya.
Di mata Nurhayati, Alfaruq bukan hanya anak bungsu. Ia adalah harapan keluarga.
“Harapan saya dia jadi anak saleh, bermanfaat, semakin kuat imannya sepulang haji nanti, dan bisa menjadi pemimpin yang baik,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Di antara lautan jamaah yang bersiap menuju Baitullah, langkah kecil Alfaruq mungkin tampak sederhana. Namun di pundaknya, ada amanah seorang ayah yang tak sempat berangkat, ada doa seorang ibu, dan ada mimpi besar seorang santri muda dari dataran tinggi Gayo.
[Raudhatul Jannah]