
Foto/Ist
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Universitas Islam Negeri Ar-Raniry kembali menunjukkan kiprah mahasiswanya di panggung internasional. Fatayatul Hanani Safrul, mahasiswi semester 6 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), tampil sebagai panelis dalam International Round Table Discussion bertajuk “Voices of Youth: Perspective Towards AI Affecting Youth Unemployment and Work” yang digelar NOVAC-TISSA Universiti Utara Malaysia.
Mahasiswi yang akrab disapa Aya itu bergabung bersama panelis dari enam negara, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Indonesia, dan Australia untuk membahas dampak perkembangan Artificial Intelligence (AI) terhadap pengangguran generasi muda dan masa depan dunia kerja.
Bagi Aya, forum lintas negara tersebut bukan sekadar ruang diskusi akademik, tetapi juga menjadi tempat membuka cakrawala baru tentang bagaimana negara-negara lain menyiapkan generasi mudanya menghadapi perubahan zaman.
“Salah satu hal yang paling membuka wawasan saya adalah pemaparan dari panelis asal Australia. Di sana ada program khusus bagi mahasiswa untuk bekerja di daerah tertentu dan sebagian didanai pemerintah,” ungkap Aya.
Menurutnya, program tersebut sangat menarik karena dirancang untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja regional sekaligus mengisi kekosongan lapangan kerja di daerah-daerah tertentu.
Aya menilai pendekatan seperti itu layak menjadi inspirasi bagi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam menciptakan pemerataan kesempatan kerja bagi generasi muda.
Di tengah kekhawatiran banyak mahasiswa terhadap AI yang dianggap dapat menggantikan manusia, Aya justru mengajak generasi muda untuk melihat teknologi secara lebih bijak dan realistis.
“Secanggih apa pun AI, penentu utamanya tetap manusia yang mengoperasikannya. AI hanyalah alat,” katanya.
Menurut Aya, tantangan terbesar bukan terletak pada hadirnya teknologi, melainkan pada kemampuan manusia dalam beradaptasi tanpa kehilangan kendali.
“Kita harus pandai menggunakan AI, tapi jangan sampai bergantung sepenuhnya pada teknologi. Kendali tetap ada di tangan manusia sebagai kreatornya,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan non-teknis atau soft skills di era digital saat ini. Adaptabilitas, kemampuan berpikir kritis (critical thinking), dan kemampuan menganalisis informasi dinilai menjadi modal penting agar generasi muda tidak tertinggal di tengah percepatan teknologi.
“Kita harus mampu memilah, mempertanyakan, dan menganalisis informasi, bukan hanya menerima mentah-mentah apa yang dihasilkan teknologi,” ujarnya.
Keikutsertaan Aya dalam forum internasional tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Aceh mampu tampil dan berkontribusi dalam diskusi global mengenai isu-isu masa depan.
Di akhir sesi, Aya menitipkan pesan sederhana namun kuat bagi mahasiswa lainnya agar berani mengambil peluang tampil di panggung dunia.
“Rasa takut itu wajar, tapi jangan biarkan rasa takut mengendalikan diri kita. Kalau ada kesempatan yang bermanfaat untuk masa depan, ambil saja dulu peluangnya. Dari langkah berani itu biasanya jalan-jalan besar berikutnya akan terbuka,” pesannya.
[Nora Hasrita]