
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Pemerintah mempercepat penguatan ketahanan pangan nasional dengan langkah agresif: membangun 100 gudang baru untuk Perum Bulog dengan kapasitas tambahan hingga 900 ribu ton beras.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan keputusan ini telah final dengan total anggaran mencapai Rp 5 triliun. Infrastruktur baru tersebut dirancang menggunakan teknologi modern untuk menjawab lonjakan produksi sekaligus menjaga stabilitas stok nasional.
“100 gudang ini sudah kita putuskan. Anggarannya Rp5 triliun, dan teknologinya menyesuaikan perkembangan terbaru,” ujar Zulhas dalam konferensi pers, Rabu (22/4/2026).
Lonjakan Stok, Infrastruktur Jadi Kunci
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa waktu terakhir, stok beras nasional meningkat signifikan, sementara kapasitas penyimpanan dinilai belum memadai. Tanpa dukungan gudang yang cukup, risiko kerusakan dan inefisiensi distribusi menjadi ancaman nyata.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa 100 gudang tersebut akan tersebar di 26 kantor wilayah dan 92 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
“Sebaran ini disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi daerah. Ada wilayah yang mendapat lebih dari satu gudang karena urgensinya tinggi,” kata Rizal.
Sebanyak 52 gudang akan dibangun di lahan milik Bulog, sementara 48 lainnya berdiri di atas lahan hibah dari pemerintah daerah—menandakan adanya sinergi pusat dan daerah dalam menjaga ketahanan pangan.
Kapasitas Fleksibel, Menjawab Karakter Wilayah
Setiap gudang dirancang tidak seragam. Kapasitasnya disesuaikan dengan karakteristik wilayah, mulai dari 1.000 ton hingga 3.500 ton per unit.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan ekosistem pendukung di daerah sentra produksi. Wilayah dengan potensi padi dan jagung tinggi akan dilengkapi fasilitas tambahan seperti pengering (dryer) dan rice milling unit (RMU).
Langkah ini menandai pergeseran pendekatan: dari sekadar penyimpanan menjadi penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir.
Teknologi BRIN: Beras Bisa Disimpan hingga 2 Tahun
Yang paling menonjol, gudang-gudang baru ini akan menggunakan teknologi hasil pengembangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Teknologi tersebut memungkinkan beras disimpan hingga hampir dua tahun tanpa fumigasi—sebuah lompatan signifikan dalam manajemen stok pangan nasional.
“Ini penting untuk menjaga kualitas sekaligus efisiensi biaya penyimpanan,” ujar Rizal.
Fokus Wilayah 3T: Mengurai Masalah Logistik Lama
Pemerintah juga memberi perhatian khusus pada wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang selama ini menghadapi kendala distribusi.
Daerah seperti Nias Selatan dan Morotai menjadi prioritas, mengingat tantangan geografis yang sering menghambat pasokan pangan.
Dengan pembangunan gudang di wilayah tersebut, pemerintah ingin memastikan ketersediaan beras tidak lagi bergantung sepenuhnya pada distribusi dari luar daerah.
Lebih dari Sekadar Gudang
Program ini bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah upaya membangun “benteng beras” nasional—untuk:
- Menjaga stabilitas harga
- Mengantisipasi krisis pangan
- Mengurangi ketergantungan impor
- Memperkuat kedaulatan pangan Indonesia
Namun tantangan tetap ada: efektivitas distribusi, pengawasan pengelolaan, hingga konsistensi produksi.
Jika tidak diiringi tata kelola yang kuat, gudang bisa menjadi aset pasif. Tapi jika dikelola optimal, ia bisa menjadi penyangga utama stabilitas ekonomi nasional.[ed]
