
MEDIASURAK.ID BANDA ACEH – Delapan tahun lalu, jutaan pasang mata menyaksikan langkah tenang Cut Aura Maghfirah Putri. Gadis Aceh itu, membawa baki berisi Sang Saka Merah Putih yang baru diturunkan melalui prosesi Upacara Penurunan Bendera di Istana Negara.
Tak seperti kala itu yang kerap jadi obrolan maupu pemberitaan media, kini kabar siswi SMA 1 Jeumpa Puteh Banda Aceh tersebut tak lagi terdengar. Wanita kelahiran 15 Januari 2000 itu, kini melanjutkan pendidikan di Korea Selatan yang telah lama diimpikan.
“S1 aku harus kuliah di Aceh. Orang tua belum mengizinkan karena jauh,” kenang Aura membagi kisah saat akan melanjutkan studi di negeri Gingseng itu.
Mimpi Aura menempuh pendidikan di Korea Selatan tak semulus keinginannya. Ia harus menerima keputusan orang tua agar tetap melanjutkan pendidikan jenjang strata 1 di kampung halamannya.
“Baru setelah lulus sarjana, ibu memberi restu. S2 bolehlah. Mau kuliah di mana saja, terserah,” ujar Aura menirukan pesan sang ibu.
Restu itu menjadi titik awal yang mengantar Aura mewujudkan mimpi karena baginya, mimpi bukan datang dengan menunggu tapi harus dipersiapkan sejak dini.
Menempuh pendidikan S1 Keperawatan, Aura terus membangun rekam jejak yang sejalan dengan cita-citanya. Organisasi, pengabdian kepada masyarakat, hingga penelitian bersama dosen menjadi bagian dari perjalanan yang ia susun satu persatu.
Fokusnya hanya satu yakni menjadi penerima beasiswa LPDP.
“Aku mencari kontribusi yang memang sesuai dengan bidang yang ingin aku tekuni, yaitu Keperawatan Komunitas,” katanya.
Momentum itu datang saat Aura berkesempatan mengikuti konferensi keperawatan di Korea Selatan bersama dosen pembimbing 2023 silam. Tak hanya pengalaman, ajang ini membuka wawasan sekaligus memperkuat portofolionya.
Sepulang dari Korea, Aura langsung mendaftar dan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP tahap pertama 2024.
Tak berhenti di sana, Aura mendaftar ke Seoul National University, kampus yang lama diimpikan hingga diterima sebagai mahasiswa magister Keperawatan.
“Alhamdulillah lulus juga. Prosesnya sekitar satu tahun sampai akhirnya sekarang aku kuliah di SNU,” ujarnya.
Menariknya, sejak awal wanita yang hobi menari dan menyanyi ini, hanya mengincar tiga universitas terbaik di Korea Selatan: Seoul National University, Yonsei University, dan Korea University.
“Kalau tidak diterima di tiga kampus itu, mungkin aku tidak jadi ke Korea,” katanya.
Kuliah di Korea Selatan menghadirkan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan masa kuliahnya di Indonesia.
Di kelas, hampir semua mahasiswa berebut menjawab setiap pertanyaan profesor.
“Kalau di Korea, literally semua ingin menjawab. Semua berlomba-lomba,” katanya.
Budaya ppalli-ppalli, yang identik dengan serba cepat, juga menjadi tantangan tersendiri.
Ketika dosen memberikan tenggat satu minggu, banyak mahasiswa sudah mengumpulkan tugas keesokan harinya. Bahkan, pemandangan mahasiswa belajar hingga tengah malam di perpustakaan bukan sesuatu yang istimewa.
“Itu bukan masa ujian. Memang budaya belajarnya seperti itu,” ujarnya.
Meski demikian, Aura merasa tidak terlalu kesulitan beradaptasi. Pengalaman aktif berorganisasi selama kuliah membentuk kebiasaan bekerja cepat dan mengatur banyak tanggung jawab sekaligus.
“Pengalaman organisasi membuatku lebih siap mengikuti ritme di sana,” katanya.
Di balik pencapaian akademiknya, Aura juga menghadapi sisi lain kehidupan sebagai mahasiswa internasional.
Ia mengaku Korea menawarkan lingkungan yang sangat beragam karena dipenuhi mahasiswa dari berbagai negara. Namun, budaya yang lebih individualistis membuatnya harus belajar hidup lebih mandiri.
“Di Aceh, orang mudah menyapa. Di Korea, semua fokus pada urusan masing-masing,” katanya.
Ia bahkan pernah mengalami kejadian sederhana yang membekas.
“Aku pernah jatuh, tapi tidak ada yang membantu. Bukan karena mereka tidak peduli, memang budayanya seperti itu,” jelasnya.
Memasuki semester tiga, ketika beban tesis mulai meningkat, homesick datang bersamaan dengan tekanan akademik.
“Semester satu dan dua masih banyak teman. Tapi semester tiga mulai terasa sepi. Aku butuh bunda, aku butuh adik-adik,” katanya.
Meski setiap malam melakukan panggilan video dengan keluarga, menurutnya, layar ponsel tak pernah benar-benar mampu menggantikan kehadiran orang-orang tercinta.
“FaceTime tiap malam tetap berbeda dengan bertemu langsung.”
Kini Aura tengah menyelesaikan tesis mengenai hipertensi pada kelompok lanjut usia menggunakan data Indonesia selama lebih dari 25 tahun.
Di sela kesibukannya, ia kerap berbagi pesan bagi mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya.
Menurutnya, peluang mendapatkan beasiswa bukan hanya ditentukan nilai akademik, tetapi juga rekam jejak dan tujuan yang jelas.
“Perbanyak kontribusi yang sesuai dengan bidang yang ingin dipelajari. Lalu tentukan setelah lulus nanti ingin memberi kontribusi apa untuk Indonesia.”



