SURAKMEDIA.ID, BANDA ACEH – Kinerja Bank Aceh Syariah yang menunjukkan tren positif pada triwulan pertama 2026 mendapat apresiasi dari anggota DPRA Komisi III, Nurchalis, SP, M.Si. Namun di balik pujian itu, tersimpan satu hal yang lebih penting: keberhasilan manajemen membaca krisis dan meresponsnya dengan cepat dan terukur.
Menurut Nurchalis, capaian tersebut bukan kebetulan. Ia menyebut ada kombinasi antara kecepatan bertindak dan ketepatan strategi yang membuat Bank Aceh mampu keluar dari tekanan pascabencana dalam waktu relatif singkat.
“Ini bukan sekadar pulih, tapi mengejar ketertinggalan hingga kembali mencatat pertumbuhan positif. Itu tidak mudah,” ujar anggota dewan yang membidangi ekonomi dan keuangan Aceh kepada media ini, Minggu malam (12/4/26).
Ujian Krisis: Dari Gangguan Operasional ke Pemulihan Cepat
Pasca bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, operasional perbankan sempat terganggu. Namun Bank Aceh bergerak cepat: memastikan layanan tetap berjalan, mengaktifkan kembali kantor-kantor terdampak, hingga memulihkan moral kerja karyawan—semuanya dalam waktu sekitar dua minggu.
Langkah ini menjadi penentu.
Alih-alih terjebak dalam fase stagnasi, Bank Aceh justru mampu mengubah tekanan menjadi momentum pemulihan. Di sinilah peran manajemen diuji—dan, menurut Nurchalis, berhasil.

Data Nasabah Jadi Kunci, Bukan Sekadar Administrasi
Salah satu langkah penting yang disoroti adalah inventarisasi nasabah terdampak bencana. Bagi Nurchalis, ini bukan sekadar pendataan administratif, tetapi fondasi kebijakan lanjutan.
Dengan data yang akurat, bank dapat merancang intervensi yang tepat sasaran—terutama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasabah yang terpukul.
“Ini menunjukkan perencanaan matang dan respons yang tidak reaktif, tapi terukur,” katanya.
Tantangan Berikutnya: Jangan Berhenti di Pemulihan
Meski memberi apresiasi, Nurchalis mengingatkan bahwa fase pemulihan bukan garis akhir. Justru di titik inilah tantangan sesungguhnya dimulai: menjaga keberlanjutan.
Ia mendorong agar Bank Aceh memperkuat program pendampingan bagi nasabah, khususnya pelaku usaha yang masih mengalami stagnasi akibat dampak bencana.
“Pemulihan ekonomi masyarakat tidak bisa dilepas begitu saja. Perlu pendampingan berkelanjutan agar kepercayaan dan kapasitas usaha benar-benar pulih,” tegasnya.
Momentum Kepercayaan dan Ekspansi
Kinerja positif ini dinilai berpotensi meningkatkan kepercayaan publik sekaligus membuka ruang ekspansi pembiayaan ke sektor-sektor yang selama ini belum tergarap maksimal.
Jika momentum ini dijaga, Bank Aceh tidak hanya akan pulih—tetapi juga memperkuat posisinya sebagai bank milik daerah yang menjadi representasi kepercayaan masyarakat Aceh.
“Pada akhirnya, Bank Aceh adalah cermin kepercayaan publik. Jika kinerjanya kuat, maka kepercayaan itu ikut menguat,” pungkas Ketua Fraksi Partai Nasdem optimis.[rdk]
