
PM Netanyahu
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Pengakuan Israel mengejutkan publik internasional setelah mengungkap adanya kunjungan rahasia PM Netanyahu ke Uni Emirat Arab (UEA) di tengah operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Pernyataan itu langsung memicu spekulasi luas mengenai dugaan keterlibatan strategis Abu Dhabi dalam konflik regional yang sejak Februari lalu mengguncang Timur Tengah.
“Di tengah Operasi ‘Roar of the Lion’, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab dan bertemu Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed,” demikian pernyataan resmi kantor Netanyahu.
Pemerintah Israel bahkan mengklaim lawatan tertutup tersebut menghasilkan “terobosan bersejarah” dalam hubungan bilateral Israel-UEA, meski tidak menjelaskan isi kesepakatan yang dimaksud.
Pengungkapan itu muncul hanya sehari setelah Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan bahwa Israel mengirim sistem pertahanan udara Iron Dome beserta personel militernya ke UEA selama konflik berlangsung.
Langkah tersebut memperkuat dugaan bahwa Abu Dhabi memainkan peran lebih besar dari sekadar sekutu diplomatik dalam menghadapi ancaman serangan balasan Iran.
Selama perang berlangsung, Iran disebut meluncurkan lebih banyak rudal dan drone ke wilayah UEA dibanding negara Teluk lainnya. Bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan bulan lalu, Abu Dhabi dilaporkan masih menghadapi beberapa serangan sporadis.
UEA sendiri merupakan salah satu mitra strategis utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan menjadi negara Arab yang menjalin hubungan resmi dengan Israel melalui Abraham Accords pada 2020, kesepakatan yang dimediasi Presiden AS saat itu, Donald Trump.
Namun di tengah ramainya spekulasi, kantor berita resmi UEA, WAM, buru-buru membantah keras klaim kunjungan Netanyahu tersebut.
“Uni Emirat Arab membantah informasi yang beredar terkait kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke negara ini ataupun penerimaan delegasi militer Israel di wilayah UEA,” tulis WAM.
UEA menegaskan hubungan mereka dengan Israel berjalan terbuka dan resmi, bukan melalui jalur rahasia ataupun kesepakatan terselubung.
“Setiap klaim mengenai kunjungan atau pengaturan yang tidak diumumkan adalah tidak berdasar kecuali disampaikan oleh otoritas resmi UEA,” lanjut pernyataan itu.
Meski demikian, bantahan Abu Dhabi justru memunculkan pertanyaan baru setelah sejumlah pejabat dan mantan staf Netanyahu mengonfirmasi perjalanan tersebut.
Mantan juru bicara Netanyahu, Ziv Agmon, bahkan mengklaim dirinya ikut mendampingi kunjungan rahasia itu dan menyebut Netanyahu disambut “dengan penghormatan para raja” oleh Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed.
“Syekh sangat menghormati perdana menteri dan secara pribadi mengantarkan Netanyahu dengan mobil pribadinya dari pesawat ke istana,” tulis Agmon di Facebook.
Ia juga menyebut hasil kunjungan itu akan menjadi “pembicaraan generasi mendatang”.
Di pihak lain, Iran merespons keras pengungkapan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran sebenarnya telah lama mengetahui keberadaan Netanyahu di Abu Dhabi selama perang berlangsung.
“Netanyahu kini telah secara terbuka mengungkapkan apa yang telah lama disampaikan oleh dinas keamanan Iran kepada kepemimpinan kami,” tulis Araghchi di platform X.
Ia menuding ada pihak-pihak regional yang berkolusi dengan Israel untuk memperdalam perpecahan di Timur Tengah.
“Permusuhan terhadap rakyat besar Iran adalah pertaruhan bodoh. Kolusi dengan Israel dalam melakukan hal ini tidak dapat dimaafkan,” tegasnya.
Pernyataan saling bantah antara Israel dan UEA kini memperlihatkan betapa sensitifnya dinamika politik Teluk di tengah konflik Iran-Israel yang belum sepenuhnya reda. Di balik diplomasi terbuka Abraham Accords, bayang-bayang kerja sama keamanan rahasia tampaknya semakin sulit disembunyikan.[dk]