
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei kembali muncul dalam sebuah video yang dirilis media Iran di tengah spekulasi mengenai kondisi kesehatannya paada Agustus 2026.
MEDIASURAK.ID, TEHERAN — Sebelum namanya berada di puncak kepemimpinan Iran, Mojtaba Khamenei disebut pernah berada di bawah reruntuhan sebuah rumah sakit di Teheran yang dihantam serangan dalam perang Iran-Amerika Serikat dan Israel.
Kisah dramatis itu diungkap Mohsen Heydari, anggota Majelis Ahli Iran, dalam wawancara dengan media Al Araby. Menurut Heydari, Mojtaba mengalami luka dan sempat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit.
Namun rumah sakit tersebut kemudian ikut terkena serangan. Mojtaba disebut berada di rumah sakit ketiga ketika bangunan itu dihantam dan sebagian strukturnya runtuh.
Dalam kondisi tersebut, Mojtaba dikabarkan berhasil ditemukan dan dievakuasi dari bawah reruntuhan. Setelah diselamatkan, ia kemudian dipindahkan ke lokasi yang dirahasiakan.
Kesaksian Heydari itu menjadi salah satu laporan paling dramatis mengenai keberadaan Mojtaba setelah serangkaian serangan terhadap Iran. Namun, detail mengenai proses penyelamatan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Kondisi Mojtaba juga sempat menjadi tanda tanya. Ia tidak banyak muncul di hadapan publik setelah serangan tersebut. Sejumlah laporan bahkan menyebut intelijen Amerika Serikat memperkirakan Mojtaba mengalami luka serius pada bagian wajah.
Di tengah spekulasi itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Mojtaba masih hidup dan dalam kondisi baik. Pernyataan tersebut menjadi salah satu sumber yang berbeda dengan sejumlah laporan mengenai tingkat cedera yang dialaminya.
Dari Bawah Reruntuhan ke Puncak Kekuasaan
Ironisnya, kisah penyelamatan itu kemudian berkelindan dengan perubahan terbesar dalam kehidupan politik Mojtaba.
Mojtaba yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai figur yang relatif berada di balik layar, tiba-tiba muncul sebagai pusat perhatian setelah Majelis Ahli memilihnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Dalam pemilihan tersebut, Mojtaba memperoleh 50 dari 59 suara anggota yang memberikan suara. Ayatollah Alireza Arafi memperoleh delapan suara, sementara satu suara dinyatakan abstain.
Heydari mengaku menjadi orang pertama yang mengusulkan nama Mojtaba dalam proses tersebut.
Yang menarik, menurut kesaksian Heydari, Mojtaba sendiri disebut tidak mengetahui bahwa namanya telah diajukan sampai pengumuman mengenai hasil pemilihan disiarkan televisi pemerintah Iran.
Jika kesaksian tersebut akurat, perjalanan Mojtaba menuju puncak kekuasaan berlangsung dalam situasi yang nyaris tidak biasa: perang, serangan udara, kerusakan infrastruktur, proses politik yang berlangsung tertutup, hingga akhirnya sebuah keputusan yang menempatkannya di posisi tertinggi Iran.
Majelis Ahli Juga Tak Luput dari Serangan
Proses pemilihan itu berlangsung ketika Iran berada dalam tekanan militer yang berat.
Sekretariat Majelis Ahli di Qom juga dilaporkan terkena serangan. Heydari mengatakan delapan orang tewas dan sejumlah dokumen mengalami kerusakan.
Dalam situasi tersebut, proses pemungutan suara tetap dilakukan. Laporan mengenai proses itu menyebut sebagian anggota majelis menghadiri pertemuan secara langsung, sementara kondisi keamanan membuat komunikasi dan pertemuan berlangsung tidak seperti biasanya.
Mojtaba kemudian memperoleh mayoritas suara yang diperlukan untuk menduduki jabatan tersebut.
Ia bukan sosok yang sebelumnya dikenal memiliki jabatan pemerintahan formal. Namanya lebih banyak dikenal sebagai putra Ayatollah Ali Khamenei dan figur yang mempunyai pengaruh di lingkaran internal kepemimpinan Iran.
Karena itu, kenaikannya ke posisi tertinggi Iran sekaligus mengubah persepsi publik mengenai figur yang selama ini dikenal sebagai “man of the shadows” tersebut.
Dari perspektif politik Iran, perjalanan itu menyimpan paradoks besar: seorang figur yang dikenal bekerja di balik layar justru tampil ke permukaan setelah negara menghadapi salah satu periode paling genting dalam sejarah mutakhirnya.
Dan dari sisi kemanusiaan, kisahnya bahkan lebih dramatis—seorang calon pemimpin yang menurut kesaksian seorang anggota Majelis Ahli sempat berada di bawah reruntuhan rumah sakit, kemudian muncul sebagai orang yang berada di puncak struktur kekuasaan Iran.
Meski demikian, sebagian detail mengenai luka, lokasi penyelamatan, dan kondisi kesehatan Mojtaba masih bergantung pada kesaksian serta laporan yang belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Itulah sebabnya kisah Mojtaba bukan sekadar cerita tentang seseorang yang lolos dari reruntuhan. Ia juga merupakan potret bagaimana perang, kerahasiaan, dan pergantian kekuasaan dapat bertemu dalam satu titik yang menentukan arah sebuah negara.[]



