
Fajran Zain, Ph.D
MEDIASURAK.ID,BANDA ACEH – Terpilih Fajran Zain, M.A., PhD sebagai Ketua ICMI Kota Sabang bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Langkah ini menjadi bagian dari gerakan besar MPW ICMI Aceh untuk menghidupkan kembali peran cendekiawan Muslim di daerah, sekaligus menjadikan Sabang—kota yang identik dengan Kilometer Nol Indonesia—sebagai pusat penguatan gagasan, kolaborasi, dan kontribusi intelektual bagi pembangunan Aceh.
Keputusan tersebut dihasilkan dalam rapat Tim Formatur yang berlangsung di Tambo Cafe, Perada, Banda Aceh, Ahad (7/6/2026). Rapat dihadiri sejumlah anggota formatur, di antaranya Prof. Nur Fadli, Dr. Mukhlis, Dr. Junaidi, Aisyah Ali, M.Pd, dan Fauzi Umar, MM, serta didampingi oleh Prof. Rajuddin dan Prof. Apridar dari ICMI Aceh.
Rapat dipimpin langsung Ketua MPW ICMI Aceh, Taqwaddin Husin, yang menegaskan bahwa pembentukan dan penguatan kepengurusan ICMI di seluruh kabupaten/kota menjadi salah satu prioritas utama kepengurusannya.
Menurut Taqwaddin, ICMI harus kembali hadir sebagai rumah besar bagi para cendekiawan Muslim dari berbagai latar belakang profesi, organisasi, dan disiplin ilmu.
“Harapan saya, semua kabupaten dan kota di Aceh memiliki organisasi ICMI yang dapat mempersatukan para organisatoris dari berbagai organisasi Islam,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan ICMI di Sabang memiliki nilai strategis tersendiri dibanding daerah lain. Selain dikenal sebagai Kota Kilometer Nol Indonesia, Sabang juga terus berkembang sebagai salah satu destinasi wisata unggulan yang semakin ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Karena itu, kata Taqwaddin, ICMI dapat memainkan peran penting sebagai mitra intelektual Pemerintah Kota Sabang dalam merumuskan berbagai gagasan pembangunan dan pengembangan daerah.
“Bagi kami, eksistensi ICMI di Sabang mempunyai nilai lebih karena letaknya di ujung paling barat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nama Sabang dikenal seluruh rakyat Indonesia. Popularitasnya sebagai destinasi wisata bahari juga terus meningkat. Karena itu, keberadaan ICMI dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memajukan daerah tersebut,” katanya.
Taqwaddin juga menyampaikan keyakinannya bahwa Fajran Zain merupakan figur yang tepat untuk memimpin organisasi tersebut.
Menurutnya, Fajran memiliki rekam jejak akademik, pengalaman organisasi, serta kapasitas kepemimpinan yang memadai untuk menggerakkan ICMI Sabang ke depan.
“Saya sudah puluhan tahun mengenal Dr. Fajran Zain. Beliau adalah sosok yang cerdas, alumni Program Doktor dari Australian National University, aktif di Aceh Institute, pernah menjadi dosen FISIP UIN Ar-Raniry, dan saat ini menjabat sebagai salah seorang deputi di BPKS. Saya yakin beliau figur yang tepat memimpin ICMI Kota Sabang,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris ICMI Aceh, Rajuddin, yang turut membekali tim formatur dengan format struktur organisasi MPD ICMI, berharap kepengurusan lengkap segera terbentuk agar roda organisasi dapat segera berjalan.
Ia meminta Fajran Zain bersama anggota formatur lainnya menyusun komposisi pengurus paling lambat dalam waktu satu bulan untuk selanjutnya dilakukan pelantikan resmi di Kota Sabang.
“Kami berharap kepengurusan lengkap dapat segera disusun dengan mengakomodasi berbagai unsur cendekiawan sehingga pelantikan dapat dilaksanakan dalam waktu dekat di Sabang,” katanya.
Menanggapi amanah tersebut, Fajran Zain menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh anggota formatur dan pengurus wilayah ICMI Aceh.
Ia menegaskan komitmennya untuk membangun organisasi yang inklusif dengan merangkul berbagai kalangan yang memiliki kapasitas intelektual dan kepedulian terhadap pembangunan daerah.
“Terima kasih atas kepercayaan ini. Kami berharap MPW ICMI Aceh terus membantu dan membimbing kami untuk mewujudkan visi dan misi ICMI. Insya Allah kami akan membentuk kepengurusan yang mengakomodir berbagai pihak yang dapat dikategorikan sebagai cendekiawan,” ujar Fajran.
Terpilihnya Fajran Zain menandai dimulainya babak baru bagi ICMI di Kota Sabang. Di tengah semakin besarnya tantangan pembangunan daerah dan kebutuhan akan gagasan-gagasan inovatif, kehadiran organisasi cendekiawan di Pulau Weh diharapkan tidak hanya menjadi wadah berhimpun para intelektual Muslim, tetapi juga mampu menghadirkan pemikiran, solusi, dan kontribusi nyata bagi kemajuan Sabang sebagai salah satu etalase Indonesia di ujung barat Nusantara.[hr]