Suasana Sophie’s Sunset Library di Pantai Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, Selasa (30/6/26). (Foto/mediasurak.id/Raudhah)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Di tengah masih terbatasnya ruang publik yang benar-benar ramah bagi anak-anak dan penyandang disabilitas, Sophie’s Sunset Library menghadirkan wajah baru literasi di Aceh. Perpustakaan ini tidak sekadar menyediakan buku untuk dibaca, tetapi juga membangun ruang belajar yang inklusif, aman, dan dapat diakses oleh semua kalangan tanpa memandang usia maupun kondisi fisik.
Komitmen tersebut terus diwujudkan melalui pengembangan perpustakaan di Pantai Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar, serta Gampong Geuceu Kompleks, Kota Banda Aceh. Kedua lokasi itu dirancang menjadi ruang literasi yang tidak hanya mendorong budaya membaca, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang setara bagi seluruh pengunjung.
Co-Founder Sophie’s Sunset Library, Raihan Lubis, mengatakan inklusivitas menjadi prinsip utama dalam setiap pengembangan fasilitas perpustakaan.
“Makna inklusi bagi kami adalah ruang yang dapat diakses dan dinikmati oleh semua orang tanpa memandang latar belakang, kondisi fisik, maupun perbedaan lainnya. Karena itu kami berusaha semaksimal mungkin menghadirkan perpustakaan yang ramah untuk semua kalangan,” ujarnya, Selasa (30/6/26).
Menurut Raihan, Sophie’s Sunset Library pertama kali hadir di kawasan Pantai Lampuuk sebagai upaya memadukan wisata alam dengan kegiatan edukasi. Selama ini pantai lebih dikenal sebagai tujuan rekreasi, sehingga perpustakaan dihadirkan untuk memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat.
“Kami ingin masyarakat yang datang ke pantai tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga memiliki kesempatan membaca, belajar, dan memperoleh pengalaman baru melalui literasi,” katanya.
Konsep tersebut juga diharapkan mampu memperluas akses terhadap bahan bacaan bagi masyarakat pesisir yang selama ini memiliki keterbatasan fasilitas literasi.
Dalam mewujudkan perpustakaan yang inklusif, Sophie’s Sunset Library mulai melengkapi berbagai fasilitas pendukung bagi penyandang disabilitas. Di lokasi Pantai Lampuuk, misalnya, telah tersedia kamar mandi yang dirancang agar dapat digunakan oleh pengguna kursi roda.
Meski demikian, Raihan mengakui masih terdapat sejumlah tantangan untuk memenuhi seluruh standar aksesibilitas. Hal itu karena perpustakaan memanfaatkan bangunan yang sudah ada sehingga beberapa penyesuaian harus dilakukan secara bertahap.
Selain ramah bagi penyandang disabilitas, Sophie’s Sunset Library juga memberi perhatian khusus terhadap kebutuhan anak-anak. Menurut Raihan, ruang publik yang aman dan nyaman bagi anak untuk membaca, belajar, sekaligus bermain masih relatif terbatas di Aceh.
“Kami ingin anak-anak memiliki ruang yang aman dan nyaman. Karena itu sejak awal kami berusaha menyediakan fasilitas yang mendukung kebutuhan mereka, kemudian berkembang menjadi ruang yang lebih inklusif bagi semua pengunjung,” ujarnya.
Komitmen tersebut kemudian diperluas dengan menghadirkan Sophie’s Sunset Library di Gampong Geuceu Kompleks, Banda Aceh. Sebuah rumah lama direvitalisasi menjadi ruang literasi yang terbuka bagi masyarakat.
Revitalisasi bangunan itu sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Selain mempertahankan karakter bangunan, pengelola juga berupaya menyesuaikan fasilitas agar lebih mudah diakses oleh penyandang disabilitas, termasuk memodifikasi akses menuju kamar mandi bagi pengguna kursi roda.
Bagi Sophie’s Sunset Library, inklusi tidak berhenti pada penyediaan fasilitas fisik. Lebih dari itu, perpustakaan ingin menghadirkan ruang di mana setiap orang merasa diterima, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, dan dapat menikmati literasi tanpa hambatan.
Melalui semangat tersebut, Sophie’s Sunset Library berharap dapat menjadi contoh bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang bersama yang menumbuhkan budaya membaca, memperluas akses pengetahuan, serta membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya.
[Raudhah]




