
Wapres AS JD Vance (kiri), PM Pakistan Shehbaz Sharif (tengah, dan PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani usai negosiasi di Swiss) Foto: AFP/FABRICE COFFRINI
MEDIASURAT.ID, BAIRUT – Di tengah ancaman keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran, pembicaraan teknis kedua negara di Swiss justru menghasilkan terobosan penting. Qatar dan Pakistan selaku mediator, Senin (22/6/26) mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan akhir yang ditargetkan tercapai dalam 60 hari ke depan.
Namun, kemajuan diplomatik itu justru berlangsung di bawah bayang-bayang ancaman Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka memperingatkan Iran agar tidak menutup Selat Hormuz maupun mengaktifkan kelompok proksinya di Lebanon.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Qatar dan Pakistan selaku mediator, AS dan Iran disebut telah mencapai kesepahaman awal mengenai sejumlah isu krusial, termasuk mekanisme mengakhiri konflik di Lebanon serta pembukaan jalur komunikasi untuk menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Pembicaraan teknis disebut akan terus berlanjut sepanjang pekan ini di Buergenstock, Swiss, sebagai bagian dari upaya menyusun detail kesepakatan final.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut negosiasi dengan AS menghasilkan “kemajuan besar”. Melalui akun X miliknya, Araghchi mengungkapkan bahwa Washington telah menunjukkan komitmen untuk melonggarkan sanksi ekspor minyak Iran dan mencairkan sebagian aset Teheran yang selama ini dibekukan.
Ia juga menyebut AS membuka peluang kerja sama dalam rekonstruksi dan pembangunan infrastruktur di Iran. Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi mengenai hasil perundingan tersebut.
Perundingan teknis dipimpin Wakil Presiden AS, JD Vance, dan dimulai pada Minggu (21/6), beberapa hari setelah nota kesepahaman damai ditandatangani kedua negara pada 17 Juni lalu.
Namun tepat menjelang pembicaraan berlangsung, Trump mengeluarkan pernyataan keras yang memicu ketegangan baru.
Menurut laporan media AS, Trump memperingatkan Iran agar tidak menutup Selat Hormuz.
“Jika kalian menutupnya, kalian tidak akan punya negara. Kalian bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian yang terkutuk itu,” kata Trump.
Presiden AS itu juga menegaskan bahwa kesepakatan akhir harus tercapai. Jika tidak, Washington siap mengambil langkah sepihak, termasuk mengambil alih pengelolaan Selat Hormuz dan menerapkan tarif sesuai kepentingannya.
Tak hanya itu, melalui platform Truth Social, Trump juga mengancam Iran agar menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata di Lebanon.
“Iran harus segera menghentikan proksi mereka di Lebanon. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan jauh lebih keras lagi,” tulis Trump.
Ancaman tersebut sempat mengguncang jalannya perundingan. Kantor berita semi-resmi Iran melaporkan delegasi Teheran sempat meninggalkan ruang perundingan sebagai bentuk protes, meski negosiasi tetap dilanjutkan melalui Qatar dan Pakistan sebagai mediator.
Pernyataan Trump muncul setelah militer Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (20/6), menyusul serangan Israel terhadap Lebanon yang dinilai melanggar poin utama kesepakatan damai, yakni penghentian pertempuran di seluruh front konflik.
Kini, perhatian dunia tertuju pada 60 hari ke depan. Jika peta jalan yang telah disepakati mampu diwujudkan menjadi kesepakatan final, maka negosiasi Swiss berpotensi menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.[edi]