
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Ditengah ketidakpastian global dan banyak maskapai dunia memilih menahan ekspansi akibat lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, AirAsia justru mengambil langkah berani.
Co-founder AirAsia X, Tony Fernandes, mengumumkan rencana meluncurkan maskapai penerbangan baru dalam satu hingga dua bulan mendatang.
Langkah agresif ini dinilai sebagai pertaruhan besar di tengah industri penerbangan yang sedang menghadapi tekanan biaya operasional, terutama kenaikan harga bahan bakar avtur akibat konflik global.
Mengutip laporan Business Times, grup maskapai bertarif rendah asal Asia Tenggara itu bahkan mulai memindahkan sejumlah armada pesawat untuk mendukung lini bisnis baru yang sedang disiapkan tersebut.
Dalam wawancara video dari Montreal, Rabu (6/5/2026), Fernandes menegaskan dirinya melihat krisis justru sebagai peluang untuk memperbesar pasar.
“Mengapa menyia-nyiakan krisis? Ada peluang dalam krisis. Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di Timur Tengah, tetapi saya yakin situasi ini tidak akan berlangsung dua tahun,” ujar Fernandes.
Ekspansi besar itu juga diperkuat dengan pesanan 150 unit pesawat Airbus A220 bernilai miliaran dolar AS. Pesawat berbadan kecil tersebut diproyeksikan menjadi tulang punggung strategi AirAsia untuk menjangkau lebih banyak kota di Asia dengan biaya operasional lebih efisien.
Namun strategi AirAsia juga menuai sorotan karena perusahaan tetap menolak melakukan lindung nilai (hedging) harga bahan bakar, padahal kebijakan itu umum dipakai maskapai dunia untuk meredam gejolak harga minyak.
Keputusan tersebut membuat saham AirAsia terpukul hingga sekitar 35 persen sejak konflik Iran memicu gejolak energi global. AirAsia bahkan disebut menjadi salah satu emiten maskapai dengan performa terburuk dalam indeks Bloomberg World Airlines selama periode tersebut.
“Memang yang melakukan hedging sekarang sedang untung. Tapi dalam jangka panjang, hedging tidak pernah benar-benar berhasil. Kami percaya harga minyak nantinya akan turun,” kata Fernandes.
Untuk membiayai ekspansi ambisius itu, AirAsia kini tengah menyiapkan penerbitan obligasi hingga US$600 juta atau sekitar Rp10,3 triliun. Selain itu, perusahaan juga sedang menjajaki pembiayaan ulang (refinancing) dengan sejumlah bank di Malaysia guna menekan beban bunga utang.
Fernandes bahkan disebut akan menemui sejumlah dana pensiun di Kanada guna menarik investor baru untuk menopang ekspansi maskapai tersebut.
Meski demikian, ia mengakui perusahaan kemungkinan tidak mampu mencapai target laba awal tahun ini. Namun pendapatan AirAsia diperkirakan tetap stabil sesuai proyeksi sebelumnya.
Saat ini AirAsia telah beroperasi di sejumlah negara Asia seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia dengan total armada sekitar 250 pesawat. Selain menjajaki ekspansi ke Vietnam, AirAsia juga baru meluncurkan penerbangan dari Bahrain dan berambisi membentuk unit lokal di negara Teluk tersebut.[ed]
