
Penjualan ayam potong di pasar Al Mahirah di Kota Banda Aceh mengalami penurunan. (Foto/mediasurak.id/Raudhah)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Perubahan itu terlihat sederhana, tetapi menyimpan pesan besar tentang kondisi ekonomi masyarakat. Jika dulu banyak pembeli datang ke pasar untuk membeli seekor ayam utuh, kini tak sedikit yang hanya mampu membawa pulang setengah bahkan seperempat ekor. Fenomena tersebut menjadi potret nyata melemahnya daya beli masyarakat yang kini mulai dirasakan para pedagang di Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh.
Di salah satu lapak ayam potong, Herianto tampak menunggu pembeli di tengah suasana pasar yang tidak seramai biasanya. Pedagang yang telah bertahun-tahun berjualan itu mengaku omzetnya terus menurun dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Herianto, penurunan mulai terasa sejak menjelang Ramadhan dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan hingga saat ini. Jika sebelumnya ia mampu menjual antara 150 hingga 200 ekor ayam per hari, kini jumlah tersebut menyusut hingga sekitar sebagiannya.
“Keadaannya memang sepi sekarang. Dulu pembeli ramai, sekarang jauh berkurang. Penjualan turun sekitar 50 persen dibandingkan sebelum Ramadhan,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Bagi Herianto, perubahan bukan hanya terlihat dari jumlah pembeli yang datang, tetapi juga dari pola belanja masyarakat. Banyak pelanggan yang kini membeli dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.
“Kalau dulu banyak yang beli satu ekor atau setengah ekor. Sekarang ada yang beli seperempat ekor saja. Mereka bilang harus hemat karena kebutuhan lain juga banyak,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari meningkatnya beban pengeluaran rumah tangga. Harga berbagai kebutuhan pokok dinilai terus naik, mulai dari bahan pangan hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. Sementara pendapatan sebagian masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding.
“Sekarang semua barang mahal. Ikan mahal, ayam mahal, sayur juga mahal. Sementara penghasilan masyarakat banyak yang tetap. Akhirnya mereka mengurangi belanja, termasuk untuk lauk-pauk,” ujarnya.
Yang membuat para pedagang semakin khawatir, penurunan pembelian terjadi meskipun harga ayam potong relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir. Artinya, persoalan utama bukan semata-mata harga ayam, melainkan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan semakin berat.
Fenomena tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat dibaca langsung dari aktivitas pasar tradisional. Pasar selama ini dikenal sebagai cermin kondisi ekonomi masyarakat karena perubahan sekecil apa pun dalam pola konsumsi biasanya akan lebih dulu terlihat di lapak-lapak pedagang.
Sejumlah pedagang lain di Pasar Al Mahirah juga mengaku merasakan hal serupa.
Aktivitas jual beli tidak lagi seramai bulan sebelumnya. Banyak warga yang datang ke pasar hanya untuk membeli kebutuhan yang benar-benar dianggap penting.
Bagi para pedagang, kondisi ini tidak hanya berdampak pada berkurangnya keuntungan, tetapi juga menyulitkan mereka dalam menutupi biaya operasional usaha sehari-hari. Jika situasi berlangsung dalam waktu lama, kekhawatiran mereka terhadap roda perdagangan di pasar tradisional akan semakin berkurang.
Meski begitu, Herianto tetap berharap keadaan bisa segera membaik. Ia percaya pasar akan kembali bergairah apabila kondisi ekonomi masyarakat pulih dan daya beli meningkat.
“Harapan kami tentu ekonomi masyarakat bisa lebih baik. Kalau daya beli naik, pasar akan ramai lagi dan pedagang juga bisa kembali berjualan seperti biasa,” katanya.
Para pedagang berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, serta memperkuat daya beli warga. Sebab bagi mereka, ramainya pasar bukan sekadar soal keuntungan pedagang, melainkan tanda bahwa ekonomi rakyat kembali bergerak.
Di tengah hiruk-pikuk pasar yang mulai meredup, kisah pembeli yang kini hanya membawa pulang seperempat ekor ayam menjadi pesan sederhana namun kuat: ketika pengeluaran terus bertambah sementara pendapatan tak banyak berubah, yang pertama kali menyesuaikan diri adalah isi keranjang belanja masyarakat.
[Raudhatul Jannah]