
CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh — Harga emas per mayam di Kota Banda Aceh pada Sabtu (25/4/2026) kembali tidak mengalami perubahan. Setelah beberapa hari sempat terkoreksi, logam mulia kini tertahan di level Rp 8.100.000 per mayam, menandai hari kedua berturut-turut tanpa pergerakan.
Data yang diperoleh dari Toko Emas Al-Fath menyebutkan, harga jual emas masih sama seperti perdagangan Kamis lalu. Nilai tersebut belum termasuk ongkos pembuatan.
Pasar menilai kondisi ini sebagai fase jeda setelah tekanan penurunan yang terjadi dalam sepekan terakhir.
Sempat Turun, Kini Masuk Zona Tunggu
Dalam beberapa hari sebelumnya, harga emas di Banda Aceh mengalami tren penurunan seiring pelemahan harga emas global dan perubahan sentimen pasar internasional. Namun kini tekanan itu tampak mulai mereda.
Stabilnya harga hari ini memberi sinyal bahwa pedagang dan pembeli sama-sama sedang menunggu arah baru.
Pelaku pasar lokal menyebut, saat harga stagnan biasanya masyarakat memilih mengamati lebih dulu sebelum membeli atau menjual.
Faktor Global Masih Menentukan
Meski pasar lokal tampak tenang, harga emas Banda Aceh sejatinya masih sangat dipengaruhi dinamika global. Sejumlah faktor utama yang akan menentukan arah harga ke depan antara lain:
- Pergerakan harga emas dunia
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
- Kebijakan suku bunga global
- Ketidakpastian ekonomi internasional
- Ketegangan geopolitik dunia
Jika tensi global kembali meningkat, emas berpotensi naik karena dianggap aset aman. Sebaliknya, bila dolar menguat dan pasar tenang, harga emas bisa kembali tertekan.
Ongkos Pembuatan Terpisah
Untuk pembelian perhiasan, harga Rp8,1 juta per mayam belum termasuk ongkos pembuatan. Biaya tambahan berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung model dan tingkat kerumitan desain.
Artinya, pembeli perhiasan tetap harus menyiapkan dana lebih tinggi dari harga dasar emas.
Saatnya Beli atau Tunggu?
Kondisi harga yang datar sering dianggap momentum aman bagi pembeli jangka panjang. Namun bagi spekulan, pasar yang diam justru menunjukkan belum adanya kepastian arah.
Di Banda Aceh, emas bukan sekadar investasi, tetapi juga simbol simpanan keluarga dan kebutuhan adat. Karena itu, setiap pergerakan kecil tetap menjadi perhatian masyarakat.
Untuk hari ini, emas memang tak bergerak. Tetapi pasar tahu, diamnya emas sering kali hanya jeda sebelum lonjakan berikutnya.[edi]
