SURAKNEWS – Di hutan-hutan Sumatra, kemenyan bukan barang baru. Ia sudah lama hidup dalam tradisi, ritual, dan cerita leluhur. Namun di pasar global, kemenyan tidak lagi dibaca sebagai simbol spiritual—melainkan sebagai komoditas industri bernilai tinggi.

Ironisnya, ketika dunia berebut getahnya, Indonesia justru masih terjebak sebagai penjual bahan mentah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor kemenyan Indonesia pada 2024 menembus lebih dari 43 ribu ton dengan nilai sekitar US$52 juta, naik dari US$49 juta pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini bukan karena lonjakan volume, melainkan karena harga global yang tetap kuat.
Artinya jelas: permintaan dunia tinggi. Nilai tambahnya besar. Tapi yang dinikmati Indonesia—masih di permukaan.
India menjadi pembeli utama, disusul China, serta negara-negara dengan industri maju seperti Prancis dan Italia. Di sana, resin kemenyan tidak dijual sebagai getah biasa. Ia diolah menjadi parfum mewah, kosmetik premium, hingga produk farmasi bernilai tinggi.
Sementara itu, Indonesia? Masih menjual mentah.
Masalah Utama: Terjebak di Hulu, Tertinggal di Hilir
Kemenyan Sumatra—khususnya dari Sumatra Utara—diakui memiliki kualitas unggul dan aroma khas. Kandungan kimianya seperti cinnamic acid dan benzoic acid menjadikannya bahan penting dalam industri global: antiseptik, salep, perawatan kulit, hingga makanan premium.
Namun seluruh keunggulan itu belum diterjemahkan menjadi kekuatan industri dalam negeri.
Indonesia hanya menjadi pemasok bahan baku. Nilai tambah justru dinikmati negara lain yang memiliki teknologi, riset, dan industri pengolahan.
Selisih harga antara resin mentah dan produk jadi bisa berkali-kali lipat.
Ini bukan sekadar kehilangan peluang—ini kegagalan strategi.
Ancaman Nyata: Petani Hilang, Industri Ikut Tumbang
Di sisi lain, ancaman dari dalam negeri tidak kalah serius.
Regenerasi petani kemenyan semakin melemah. Anak muda enggan melanjutkan karena masa panen panjang dan pendapatan yang tidak pasti. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia bukan hanya kehilangan nilai tambah—tetapi juga kehilangan bahan bakunya.
Ketika pasokan melemah, posisi Indonesia di pasar global pun bisa tergeser.
Padahal permintaan dunia tetap stabil—bahkan kuat—karena digunakan di berbagai sektor: parfum, farmasi, makanan, hingga kebutuhan ritual keagamaan di India, Rusia, dan Eropa Timur.
Solusi: Naik Kelas atau Terpinggirkan
Jika Indonesia ingin keluar dari jebakan ini, maka langkah setengah hati tidak lagi cukup.
Pertama, bangun industri hilir berbasis kemenyan.
Pemerintah harus mendorong investasi pada pengolahan: parfum, essential oil, balsam kesehatan, hingga produk kosmetik. Nilai tambah harus diciptakan di dalam negeri.
Kedua, insentif bagi petani dan regenerasi.
Harga harus diperbaiki, akses pembiayaan diperluas, dan teknologi budidaya diperkenalkan agar kemenyan kembali menarik bagi generasi muda.
Ketiga, riset dan branding global.
Indonesia harus membangun identitas kemenyan sebagai produk premium dunia, bukan sekadar komoditas mentah. Ini membutuhkan riset, standardisasi, dan strategi pemasaran internasional.
Keempat, integrasi hulu-hilir.
Petani, industri, dan eksportir harus berada dalam satu ekosistem. Tanpa integrasi, rantai nilai akan terus bocor ke luar negeri.
Dunia Sudah Siap, Indonesia Belum
Kemenyan Sumatra sudah punya pasar. Sudah punya reputasi. Bahkan sudah diperebutkan oleh negara-negara besar.
Yang belum siap adalah strategi Indonesia sendiri.
Jika tetap bertahan sebagai penjual bahan mentah, maka Indonesia hanya akan menjadi penonton di pasar yang seharusnya bisa dikuasai.
Namun jika berani naik kelas, kemenyan bukan hanya komoditas lama—melainkan peluang besar untuk masa depan ekonomi berbasis hutan dan industri bernilai tinggi.[]
