
Kembali ke energi batu bara
MEDIASURAK.ID, Banda Aceh — Krisis pasokan energi global mulai memaksa negara-negara di kawasan ASEAN mengambil langkah darurat. Di tengah lonjakan harga minyak dunia dan ancaman terganggunya suplai dari kawasan Timur Tengah, sejumlah negara Asia Tenggara kini kembali mengandalkan batu bara sebagai penyangga utama ketahanan energi.
Dari Indonesia hingga Thailand, pemerintah memilih sumber energi domestik yang cepat tersedia, meski berisiko menodai komitmen transisi menuju energi bersih.
Fenomena ini menandai ironi besar: ketika dunia berbicara net zero emission, ASEAN justru kembali membuka pintu bagi energi fosil paling kotor.
Sejumlah negara mulai mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dan mempercepat program pencampuran bahan bakar minyak dengan bioetanol maupun biodiesel.
Di Indonesia, pemerintah bersiap meningkatkan produksi batu bara guna memanfaatkan harga global yang sedang tinggi sekaligus menambah penerimaan negara. Langkah ini dipandang realistis di tengah kebutuhan energi domestik yang terus meningkat.
Sementara itu, Thailand berencana menghidupkan kembali dua unit PLTU di Provinsi Lampang untuk meredam lonjakan tarif listrik. Sedangkan Filipina membuka opsi mencabut moratorium pembangunan PLTU baru demi menghadapi ancaman krisis energi berkepanjangan.
Direktur dan Kepala Ekonom Asia Decoded, Priyanka Kishore, menyebut penggunaan batu bara memang menjadi solusi tercepat, tetapi berisiko mahal dalam jangka panjang.
“Ini solusi jangka pendek dan mudah didapat, tetapi bukan yang paling ramah lingkungan.”
Harga batu bara global sendiri ikut melonjak. Pada Maret 2026, kontrak berjangka sempat menembus 150 dolar AS per metrik ton—level tertinggi sejak akhir 2024. Kenaikan ini berpotensi menekan tarif listrik dan biaya produksi industri di kawasan.
Laporan Zero Carbon Analytics menilai batu bara tetap rapuh terhadap guncangan geopolitik. Menurut lembaga itu, energi terbarukan justru lebih tahan krisis karena tidak membutuhkan rantai pasokan bahan bakar berkelanjutan.
Namun dalam kondisi darurat, banyak negara memilih yang tersedia sekarang, bukan yang ideal untuk masa depan.
Biofuel Jadi Jalan Tengah
Di sisi lain, bahan bakar hayati mulai dipacu sebagai alternatif lebih lunak dibanding batu bara.
Vietnam akan meluncurkan bensin E10—campuran 10 persen bioetanol—mulai 30 April 2026. Malaysia meningkatkan mandat biodiesel dari B10 menuju B15 secara bertahap.
Thailand memperluas produksi gasohol E20, sementara Indonesia bersiap meluncurkan biodiesel B50 berbasis minyak sawit pada 1 Juli 2026, disertai target penghentian impor solar.
Direktur Segi Enam Advisors, Khor Yu Leng, menilai biomassa dari limbah kelapa sawit bisa menjadi solusi lebih cepat dan efisien dibanding sekadar menaikkan campuran biofuel.
Lonjakan permintaan bahan bakar nabati ikut mendongkrak harga minyak sawit global. Di Bursa Malaysia, harga kontrak acuan CPO telah menembus 4.500 ringgit per ton.
ASEAN Sedang Memilih Bertahan
Krisis ini menunjukkan satu fakta keras: saat pasokan global terguncang, banyak negara akan kembali ke energi lama demi menjaga lampu tetap menyala dan ekonomi tetap bergerak.
Bagi ASEAN, pertaruhannya kini bukan sekadar harga energi, tetapi apakah kawasan ini mampu bertahan tanpa mengorbankan agenda hijau yang selama ini dikampanyekan.[dk]
