
MEDIASURAK.ID,BANDA ACEH – Rupiah kembali tertekan di awal perdagangan Selasa padi ini (5/5/2026), menyusul penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Dari data Refinitiv, rupiah dibuka melemah ke level Rp17.380 per dolar AS atau turun 0,09%. Angka ini memperpanjang tren pelemahan setelah sehari sebelumnya rupiah ditutup di Rp17.365/US$, level penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,15% ke posisi 98,521 pada pukul 09.00 WIB. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset aman (safe haven).
Dari dalam negeri, pelaku pasar tengah menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Berdasarkan konsensus 12 lembaga yang dihimpun CNBC Indonesia, ekonomi diperkirakan tumbuh 5,40% secara tahunan (yoy). Namun secara kuartalan (qtq), ekonomi diproyeksi terkontraksi 1,0%.
Jika terealisasi, pertumbuhan ini akan menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022, sekaligus berpotensi menjadi capaian terbaik di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Namun, tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan. Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanaskan pasar global.
Laporan menyebut pasukan AS berhasil menahan serangan Iran saat mengawal kapal di Selat Hormuz. Di saat bersamaan, Uni Emirat Arab mengklaim berhasil mencegat rudal jelajah, sementara insiden kebakaran di Pelabuhan Fujairah diduga terkait serangan drone.
Situasi ini mendorong lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) secara bersamaan.
Pasar kini khawatir lonjakan harga energi akan memicu tekanan inflasi baru, yang bisa memaksa Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama—bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan.
Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat rupiah masih berada dalam tekanan dan rentan melemah sepanjang perdagangan hari ini.
