
Layar ponsel kotor, jadi sarang kuman
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH– Smartphone kini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sudah menjadi bagian penting dari gaya hidup modern. Mulai dari membangunkan tidur lewat alarm, mengatur jadwal kerja, transaksi digital, memesan makanan, hingga hiburan sebelum tidur, hampir seluruh aktivitas harian masyarakat bergantung pada ponsel.
Namun di balik kemudahan itu, tersimpan ancaman kesehatan yang sering diabaikan. Layar ponsel ternyata dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri, virus, dan berbagai mikroorganisme berbahaya yang berpotensi memicu penyakit.
Dokter spesialis gastroenterologi, Saswata Chatterjee, mengungkapkan bahwa tingkat kontaminasi pada smartphone bahkan bisa lebih tinggi dibandingkan dudukan toilet, permukaan dapur, hingga gagang pintu di ruang publik.
“Penelitian menemukan bahwa layar ponsel biasanya menampung lebih banyak bakteri dibanding permukaan dapur, dudukan toilet, atau gagang pintu umum karena ponsel bersentuhan langsung dengan tangan, wajah, tas, dan berbagai permukaan lain sepanjang hari,” ujar dr Saswata Chatterjee seperti dikutip dari Hindustan Times, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, smartphone menjadi salah satu benda yang paling sering disentuh manusia, namun justru paling jarang dibersihkan secara rutin. Ponsel dibawa ke mana-mana, mulai dari meja kerja, kendaraan umum, kamar tidur, restoran, hingga toilet. Setiap permukaan yang disentuh berpotensi meninggalkan bakteri dan virus yang kemudian menumpuk di layar maupun casing perangkat.
Berbeda dengan fasilitas umum seperti meja, pegangan tangga, atau toilet yang umumnya dibersihkan secara berkala, ponsel sering luput dari perhatian penggunanya. Akibatnya, lapisan kuman terus menempel dan berkembang biak dari waktu ke waktu.
“Ponsel pintar secara bertahap mengumpulkan lapisan bakteri dan kuman yang kemudian mudah berpindah ke wajah saat menelepon atau ke makanan ketika seseorang menggunakan ponsel sambil makan,” katanya.
Dari sisi kesehatan pencernaan, kontaminasi tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan saluran cerna, mulai dari keracunan makanan, flu perut, diare, mual, muntah, hingga infeksi usus lainnya.
Risiko penularan disebut semakin tinggi pada kondisi cuaca lembap seperti musim hujan maupun musim panas dengan tingkat kelembapan tinggi. Dalam kondisi demikian, bakteri dan virus dapat berkembang lebih cepat di permukaan benda, termasuk layar smartphone.
Selain itu, suhu perangkat yang cenderung hangat saat digunakan juga dinilai menjadi lingkungan ideal bagi mikroorganisme untuk bertahan hidup lebih lama. Apalagi ponsel sering disimpan di tempat tertutup seperti saku celana, tas, atau bawah bantal yang lembap dan minim sirkulasi udara.
“Banyak orang tidak menyadari bahwa bakteri dan virus mampu bertahan cukup lama di permukaan perangkat seluler. Hal ini dipengaruhi suhu perangkat yang hangat dan kondisi penyimpanan yang tertutup,” ujar dia.
Untuk mengurangi risiko paparan bakteri, masyarakat disarankan rutin membersihkan ponsel menggunakan tisu disinfektan berbahan alkohol dengan kadar aman bagi perangkat elektronik. Penggunaan cairan berlebihan atau bahan kimia keras sebaiknya dihindari karena dapat merusak layar dan komponen smartphone.
Tak hanya layar, casing ponsel juga perlu dibersihkan secara berkala karena menjadi tempat menumpuknya debu, minyak kulit, keringat, dan kotoran yang tidak terlihat mata.
dr Saswata juga mengingatkan masyarakat agar menghindari penggunaan ponsel saat makan, terutama jika tangan belum dicuci bersih. Kebiasaan sederhana tersebut dinilai dapat mengurangi perpindahan bakteri dari layar ke makanan.
Selain itu, ponsel sebaiknya tidak diletakkan sembarangan di tempat umum yang rawan terkontaminasi, seperti meja restoran, kursi transportasi publik, atau area toilet.
“Jadikan kebersihan ponsel sebagai bagian dari rutinitas menjaga kesehatan, sama pentingnya seperti mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer,” ujarnya. {am]